Cerita Warga Ijen, Begadang Kelilingi Api Unggun Waspadai Banjir Susulan

Chandra Iswinarno
Cerita Warga Ijen, Begadang Kelilingi Api Unggun Waspadai Banjir Susulan
Warga berkumpul di sekitar api unggun di Dusun Kampung Baru, Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. [Suara.com/Ahmad Su'udi]

Kini bukit yang termasuk dalam wilayah Perhutani itu hanya berupa tanah basah tanpa tanaman, setelah terbakar Oktober 2019 dan diguyur hujan dengan intensitas 50 milimeter.

SuaraJatim.id - Asap mengepul di beberapa titik di antara genting rumah-rumah warga Dusun Kampung Baru, Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. Di sumber-sumber asap itu penduduk berkumpul dalam grup-grup kecil, duduk melingkari api unggun masing-masing.

Pemandangan seperti itu bisa ditemui setiap malam di pemukiman dengan tanah berbukit di ketinggian di atas 1.000 meter di atas laut (MDPL) itu. Namun kali ini tak hanya begadang menjaga kampung dari aksi pencurian, mereka mewaspadai banjir bandang susulan dari Bukit Suket.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Februari dan Maret menjadi puncak musim hujan tahun ini. Selain itu, awan di atas kecamatan yang memiliki jalan akses menuju puncak Gunung Ijen itu, kerap nampak mendung bergelayut.

"Pasti ada potensi (banjir susulan) karena memasuki musim hujan. Jawa Timur diperkirakan curah hujan tinggi, tapi tidak sampai ekstrim," kata Prakirawan Stasiun BMKG Banyuwangi Ibnu Haryo, Jumat (31/1/2020).

Dia mengatakan intensitas hujan di Jawa Timur umumnya terdampak badai tropis di utara Australia yang bibitnya diperkirakan muncul pada Rabu (5/2/2020). Selama Februari, Bondowoso diperkirakan menerima curah hujan 300 sampai 400 milimeter yang tidak tergolong ekstrim.

Warga Dusun Kampung Baru Hari Purwanto (30), yang menyalakan api unggun di depan rumahnya bersama beberapa tetangga, mengatakan orang-orang saat ini menjadi lebih waspada. Beruntung rumahnya yang berada di selatan musala tidak terdampak banjir, tak seperti yang berada di timur musala.

Jalan gang kampung, kamar mandi umum dan rumah warga di depan musala terendam lumpur yang juga merusak perabot. Hari mengatakan Musala Nurul Hikam itu menjadi salah satu tempat mengungsi seorang warga dari total 300 pengungsi.

"Banjirnya tidak menjebol dinding, tapi ada yang masuk-masuk. Air tinggi, barang jadi rusak semua," kata Hari, malam setelah kejadian banjir bandang, Rabu (29/1/2020).

Warga berusaha mengangkat motor yang tergenang lumpur sisa banjir bandang di Dusun Kampung Baru, Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. [Suara.com/Ahmad Su'udi]
Warga berusaha mengangkat motor yang tergenang lumpur sisa banjir bandang di Dusun Kampung Baru, Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. [Suara.com/Ahmad Su'udi]

Pemkab Bondowoso mencatat banjir di Desa Sempol dan Kalisat menyebabkan empat orang luka ringan. Selain itu, 214 rumah, 6 musala, 22 titik fasilitas MCK, 1 sekolah rusak sedang, 3 titik jembatan, 8 km plengsengan rusak, 14 km sarana air bersih, 16 km jalan dan 7 km gang rusak.

Banjir bandang yang terjadi pada Rabu lalu, juga berdampak pada 40 kandang yang rusak atau hanyut dan 10 hektare lahan pertanian, serta sejumlah kendaraan bermotor. Hewan ternak yang terdampak sebanyak 864 ekor, terdiri dari 800 ekor kambing, 53 ekor sapi dan 11 ekor kuda, meski belum ada laporan hilang.

Salah satu anggota tim KRPH Belawan Perhutani yang meninjau Bukit Suket di kaki Gunung Raung, Suyono mengatakan, mulanya tanah itu ditumbuhi ilalang. Kini bukit yang termasuk dalam wilayah Perhutani itu hanya berupa tanah basah tanpa tanaman, setelah terbakar Oktober 2019 dan diguyur hujan dengan intensitas 50 milimeter pada Rabu (29/1/2020).

Dia memperkirakan air bervolume tinggi tak mampu diserap atau ditahan bukit hingga langsung mengalir ke pertemuan dua ceruk yang mengarah ke desa. Air yang membawa material gunung terbakar itu turun melewati lahan perkebunan dan menerjang pemukiman.

"Di sana memang rawan kebakaran, memang kaki Gunung Raung. Untuk memadamkan api kesulitan, memang medannya sulit. Untuk pembalakan liar tidak ada," kata dia, Kamis (30/1/2020).

Pemkab Bondowoso mencatat Kecamatan Ijen pernah dilanda banjir pada tahun 2012, 2015, 2019 dan 2020. Meski sudah dibangun sungai buatan untuk menanggulangi banjir yang selesai tahun 2017, tapi tetap tak berdaya menangani banjir bandang yang disertai kayu-kayu hutan bekas kebakaran.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menengok kawasan banjir bandang di Dusun Kampung Baru, Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. [Suara.com/Ahmad Su'udi]
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menengok kawasan banjir bandang di Dusun Kampung Baru, Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. [Suara.com/Ahmad Su'udi]

Badan Pusat Statistik tahun 2018 melaporkan, kecamatan itu memiliki enam desa dengan ketinggian rata-rata di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan jumlah penduduk 11.252 orang, yang sebagian tinggal di rumah-rumah fasilitas pekerja perkebunan PTPN XII.

Direktur Operasional PTPN XII Anis Febriantomo mengatakan, pihaknya menyiapkan fasilitas pengungsian dan kesehatan, serta bantuan makanan dan minuman bagi korban kebanjiran yang merupakan pekerja PTPN XII sendiri. Dia berjanji akan memberikan bantuan uang tunai pada pekerja perkebunan yang tidak bisa bekerja karena terdampak banjir.

Dia juga menyampaikan tengah mengkaji posisi 35 unit rumah dinas di Dusun Kampung Baru untuk dilakukan relokasi. Bila dianggap berbahaya, PTPN XII yang memiliki lahan dan bangunan akan merelokasi ke lahan yang lebih aman.

"Kita akan membuat pemecah airnya, dan ini pasti kita kerjasama dengan Pemda dan Provinsi. Tapi sekarang kita fokus dulu ke penanganan jangka pendeknya," kata Anis.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang mengunjungi lokasi sehari setelah banjir mengatakan, bakal melakukan penghijauan gunung, terutama di Raung. Penanaman bakal dilakukan dengan menebar biji bibit pohon dari udara di musim hujan agar cepat bertunas dan tumbuh.

Dia mengatakan kemungkinan material gunung bekas kebakaran hutan memperburuk dampak banjir. Program itu juga terbuka bagi masyarakat umum ataupun pendaki gunung yang mau berpartisipasi menyiapkan bibitnya atau menyebar langsung di gunung.

"Kalau teman-teman semua mau bersuka cita menumbuhkan biji apa saja itu. Karena itu dilakukan oleh Thailand, kalau dulu di beberapa negara bagian Amerika, mereka sudah cukup lama melakukan. Saya kira kita juga bisa," kata Khofifah.

Kontributor : Ahmad Su'udi

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS