Gegara Corona, Santri Asal Blitar Gagal ikuti Lomba Robotik di Singapura

Chandra Iswinarno
Gegara Corona, Santri Asal Blitar Gagal ikuti Lomba Robotik di Singapura
Tim Robotik SMP Mambaus Sholihin Blitar raih juara umum World Robotic For Peace yang berlangsung di Malaysia. [Istimewa]

Setelah diperiksa oleh Pemkab Blitar di RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Yasroni dan anak didiknya diminta untuk istirahat di rumah selama 14 hari sambil terus diawasi.

SuaraJatim.id - Meski berhasil menyabet juara umum pada World Robotic For Peace di Malaysia, namun siswa SMP Mambaus Sholihin batal ikut lomba di Singapura. Pembatalan tersebut terpaksa dilakukan menyusul Wabah Virus Corona di negara tersebut.

"Banyak negara (peserta) yang di Singapura mundur, jadi kami ikut mundur, bukan menghindari akhirnya kami fokus di Malaysia," kata Pembina Pelajar SMP Mambaus Sholihin Yasroni Indralogi pada Selasa (11/2/20).

Ketika berangkat ke Malaysia, Yasroni mengaku tak ada pesawat yang langsung mendarat di Johor Baru. Saat itu hanya ada maskapai tujuan Jakarta-Singapura.

"Awalnya kami berangkatnya lewat Juanda menuju Johor Baru. Kemudian di situ lima kali maskapai kami di-cancel. Akhirnya, pesawatnya harus dari Jakarta. Setelah ketemu bupati, lalu kami pergi ke Jakarta," kata dia.

Yasroni menjelaskan di Singapura proses pemeriksaan kesehatan dilakukan sebanyak dua kali sebelum terbang ke Malaysia. Bahkan salah satu pelajar SMP Mambaus Sholihin nyaris dilarang berangkat ke Malaysia karena suhu tubuh yang meningkat.

"Kami di sana (Singapura) dicegat dan dicek kesehatannya. Salah satu dari temen kami sempat ditolak karena suhu tubuhnya panas. Kemudian, kami sampaikan kalau dari Indonesia dan sakitnya sakit biasa. Akhirnya, kami lolos dari Singapura," katanya.

Berbeda dengan Singapura, cek kesehatan di Malaysia cenderung longgar. Bahkan, tidak ada cek kesehatan ketika rombongan Yasroni tiba di Malaysia. Bahkan, tak terlihat ada warga yang memakai masker.

"Yang paling ketat di Singapura," ujarnya.

Di Malaysia, pelajar SMP Mambaus Sholihin berhasil meraih juara umum usai menjadi juara di tiga kategori dan dua kali runner up dari tujuh jenis lomba di tingkat SMP. Mereka juga berhak atas piala, medali dan uang tunai total 21 ribu ringgit Malaysia.

Ketika kembali ke tanah air, rombongan juga sempat menemui kendala. Maskapai Garuda Indonesia yang ditumpangi Yasroni dan rombongan sempat dua kali dibatalkan ketika bertolak dari Kuala Lumpur menuju Indonesia.

"Pesawat kami awalnya Garuda akhirnya diganti Air Asia. Di Indonesia ada pemeriksaan satu kali di Bandara (Sukarno-Hatta) dan oleh Dinas Kesehatan tadi pagi," katanya.

Setelah diperiksa oleh Pemkab Blitar di RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Yasroni dan anak didiknya diminta untuk istirahat di rumah selama 14 hari sambil terus diawasi.

"Intinya masih dalam masa inkubasi, karena masa inkubasi virusnya selama 14 hari. (Selama) 14 hari ini mereka masih dalam pengawasan dan tentu saja jangan sampai terjadi infeksi. Kita amati sampai lebih dari 14 hari," kata Direktur RSUD Ngudi Waluyo Kabupaten Blitar Woro Endah Utami.

Secara umum, kondisi Yasroni dan anak didiknya tak perlu dikhawatirkan. Mulai dari saluran pernapasan atas, paru-paru dan suhu tubuh dalam keadaan normal.

"Hari ini pemeriksaan saluran nafas atas sampai parunya. Kondisi suhu. Semua aman. Semua sehat," katanya.

Kontributor : Farian

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS