facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ngeri! Ikan, Kerang dan Udang di Pesisir Utara Jatim Tercemar Mikroplastik

Muhammad Taufiq Selasa, 05 Januari 2021 | 14:05 WIB

Ngeri! Ikan, Kerang dan Udang di Pesisir Utara Jatim Tercemar Mikroplastik
Seorang warga Gresik sedang membeli ikan tangkapan nelayan (Foto: Timesindonesia.co.id)

Masyarakat diminta diet plastik dan tidak membuang limbah plastik sekali pakai di sungai Bengawan Solo dan Brantas.

SuaraJatim.id - Masyarakat diminta diet plastik dan tidak membuang limbah plastik sekali pakai di sungai Bengawan Solo dan Brantas. Dua aliran air sungai ini bermuara di wilayah laut Jawa Timur.

Apalagi hasil riset Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecoton bersama komunitas mahasiswa menemukan fakta kalau mikroplastik, serpihan atau remah-remah plastik berukuran < 5mm hingga 0,3 mm sudah mencemari air sungai Brantas, Bengawan Solo dan Kali Surabaya.

Kemudian temuan lain, biota laut di pesisir Jawa Timur kini juga sudah tercemar mikroplastik ini. Mikroplastik ditemukan dalam air laut, biota laut (ikan, udang dan kerang) dan garam di pesisir Surabaya, Gresik dan Lamongan.

Temuan mikroplastik dalam ekosistem perairan dan biota di dorong oleh banyaknya sampah plastik yang masuk ke dalam perairan.

Baca Juga: Pertama Kalinya, Ilmuwan Temukan Mikroplastik di Plasenta Manusia

Manajer Kampanye Ecoton Tonis Afrianto, mengatakan pihaknya terus mengampanyekan agar ada regulasi pelarangan penggunaan plastik sekali pakai di kota-kota atau kabupaten yang dilewati sungai Brantas dan Bengawan Solo.

"Dan Produsen harus consumer good harus didorong untuk menyediakan container khusus sachet plastik yang tidak bisa didaurulang, jika tidak dilakukan maka pesisir Utara Jawa akan tergerus oleh mikroplastik," katanya, seperti dikutip dari timesindonesia.co.id, media jejaring suara.com, Selasa (5/12/2021).

Tonis mengungkapkan, dari hasil kajiannya plastik mengandung 7 bahan berbahaya, setiap hari manusia mengkonsumsi hampir 1 gram plastik yang berasal dari air, makanan dan udara yang dihirup.

"Maka kita harus menghentikan perilaku makan plastik," ucapnya.

Temuan mikroplastik dalam ekosistem perairan dan biota disebabkan banyaknya sampah plastik yang masuk kedalam perairan. Kondisi ini dipicu tidak tersedianya sarana pengelolaan sampah pada tingkat desa.

Baca Juga: Mikroplastik Ditemukan di Plasenta, Dokter: Ini Seperti Bayi Cyborg

"Salah satu sarana yang dibutuhkan saat ini adalah keberadaan tempat sampah dan tempat sampah sementara pada tingkat desa," ungkapnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait