Yaitu mencurigai orang lain atau sesamanya dengan tuduhan buruk yang tidak berdasar. Sebab sebagian dugaan tersebut murni perbuatan dosa, maka mereka diperintahkan Allah untuk menjauhinya.
2. Jangan Memata-matai dan Mencari-cari Keburukan
Dalam ayat ini terdapat kata tajassasuu yang berasal dari kata jassa, yang mempunyai makna mencari tahu dengan sembunyi-sembunyi. Al Auza'i mengatakan bahwa tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain. Sedangkan tahassis yakni mencari-cari berita suatu kaum, sementara itu yang bersangkutan tidak mau beritanya terdengar atau disadap.
Dalam Tafsir fi Zilalil Quran, Sayyid Qutb menerangkan, kadang-kadang merupakan kegiatan yang mengiringi dugaan. Selain itu kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyikapi aib dan mengetahui keburukan. Al Quran melarang perbuatan hina dari segi akhlak guna membersihkan hati dari kecenderungan yang buruk, yakni mengungkap aib dan keburukan orang lain.
Baca Juga:LENGKAP Isi 47 Pasal Piagam Madinah dan 13 Kelompok yang Menyetujui
3. Larangan Ghibah
Dalam ayat itu terdapat kata "yagghtab" termabil dari kata ghiibah yang berasal dari kata ghaib, yakni bermakna tidak hadir. Sehingga ghibah adalah perbuatan membicarakan sesuatu tentang orang lain yang tidak hadir. Jika yang dibicarakan itu hadir atau mengetahuinya, ia tidak suka.
Perbuatan ghibah digambarkan seperti makan bangkai saudaranya. Sementara itu, kata fakarihtumuuh dalam ayat ini menggunakan fi'il madhi (kata kerja lampau). Sehingga menunjukkan bahwa perasaan jijik itu merupakan sesuatu yang pasti dirasakan oleh semua orang. Di masa Rasulullah, terkadang bau busuk ghibah benar-benar tercium.
4. Bertaqwa kepada Allah
Dalam kalimat terakhir di ayat itu Allah kembali mengingatkan kepada orang mukmin agar mereka bertakwa kepada Allah. Dengan takwa, sesorang bisa terjaga dari buruk sangka, mencari keburukan orang lain dan ghibah.
Baca Juga:Surat An Nasr Diturunkan di Kota Apa? Ini Jawabannya
Sementara itu, berikut kandungan Surat Al Hujurat ayat 12: