SuaraJatim.id - Kabupaten Bondowoso merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Bondowoso merupakan kabupaten yang tidak memiliki wilayah laut karena terletak diantara kabupaten-kabupaten atau daratan. Berikut sejarah Kabupaten Bondowoso selengkapnya.
Landmark yang sangat terkenal dari Kabupaten Bondowoso adalah Monumen Gerbong Maut. Julukan kabupaten ini adalah Kota Tape. Selain itu, Kabupaten Bondowoso juga memiliki motto yakni Swasthi Bhuwana Krta. Tentu saja dengan landmark dan julukan serta motto tersebut dapat diketahui bahwa kabupaten ini merupakan wilayah yang unik.
Sejarah Kabupaten Bondowoso
Jaman dahulu, seorang Bupati bernama Ronggo Kiai Suroadikusumo mengembangkan Pelabuhan Besuki yang menarik minat pedagang luar daerah. Hal tersebut membuat penduduk semakin diuntungkan dan banyak pendatang sehingga perlu mengembangkan wilayah ke arah tenggara. Kyai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno menjadi penanggung jawab pembukaan lahan tersebut. Ia pun akhirnya benar-benar menjadi penanggung jawabnya.
Baca Juga:Awasi Pembuang Sampah Sembarangan, Jembatan di Bondowoso Akan Dipasang CCTV
Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo menikahkan Mas Astrotruno dengan Roro Sadiyah yakni seorang putri Bupati Probolinggo. Mertua Astrotruno Menghadiahkan “Melati” Melati tersebut adalah kerbau putih yang tanduknya melengkung kebawah untuk jadi kawan perjalanan dan menuntun ke daerah yang lestari dan subur.
Pekerjaan pembukaan jalan itu berlangsung dari tahun 1789 hingga 1794. Saat sudah mulai terbentuk, Mas Astrotruno mengadakan berbagai tontonan di alun-alun daerah tersebut dan menjadi perhatian banyak orang. Ia juga berjasa dalam pengembangan wilayah tersebut, sehingga ia diangkat menjadi Nayaka merangkap Jaksa Negeri.
Mas NGabehi Astrotruno diangkat sebagai patih dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Ia menjadi penemu dan pemerintah pertama Blindungan yang kemudian berubah namanya menjadi Bondowoso. Kata Bondowoso berkaitan dengan kata Bondo yang berarti modal, bekal, harta, kemudian kata woso berarti kekuasaan. Makna sesungguhnya yakni terjadinya kabupaten tersebut semata-mata karena adanya modal tekad yang keras dalam mengemban tugas yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota. Semakin berjalannya waktu, ia diberi kehormatan dengan predikat Ronggo I pada 17 Agustus 1819. Tanggal tersebut dijadikan sebagai tanggal eksistensi Bondowoso.
Pada 1830, Kyai Ronggo I mengundurkan diri dari kekuasaannya dan menyerahkan jabatannya kepada Djoko Sridin. Djoko adalah putra keduanya. Jabatan tersebut dipangkunya dengan predikat Ronggo II. Setelah mengundurkan diri, Ronggo I menekuni agama Islam dan tinggal di Jember. Ia wafat pada 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun.
Bupati Kabupaten Bondowoso
Baca Juga:Bungkam Persebo Bondowoso 5-1, Persewangi Banyuwangi Lolos 32 Besar Liga 3 Jatim 2021
Kabupaten Bondowoso pernah dipimpin oleh beberapa bupati sejak tahun 1819. Bupati-bupati tersebut adalah R.M.N Kerto Negoro yang menjabat dari tahun 1819 hingga 1830, R. II M.N. Kertokoesoemo atau Djoko Sridin pada 1830 hingga 1850, R.T.A Abdoerahman Wirodipuro pada 1850 hingga 1966 dan 1866 hingga 1879, R.T Wondokoesoemo pada 1879 hingga 1891, Kertosoebroto pada 1891 hingga 1908, Sentot Sastroprawiro pada 1908 hingga 1925, Tirtohadi Sewojo pada 1925 hingga 1928, Prodjodiningrat pada 1928 hingga 1934, Herman Hidajat pada 1934 hingga 1938, Sjafioedin Admosoedirdjo pada 1938 hingga 1945, R Soetandoko pada 1945 hingga 1946, RT Saleh Soerjoningprosjo pada 1946 hingga 1949, RT Badroes Sapari pada 1949 hingga 1950, RT Koesno Koesoemowidjojo pada 1950 hingga 1951, RT Iskandar pada 1951 hingga 1956, R. Soejarwo pada 1957 hingga 1957, Soetowo pada 1957 hingga 1958, Djoemadi Moespan pada 1958 hingga 1959, R Soetowo kembali menjabat pada 1960 hingga 1964, R Soemarto Partomihardjo pada 1964 hingga 1965, R Arifin DJauharman pada 1965 hingga 1973, Soerono pada 1973 hingga 1978, Mochammad Suwardhi pada 1978 hingga 1983, Mochammad Rivai pada 1983 hingga 1988, Agus Sarosa pada 1988 hingga 1993 1993 hingga 1998, Mashoed pada 1998 hingga 2003 dan 2003 hingga 2008, Amin Said Husni pada 2008 hingga 2013 dan saat ini ia menjabat untuk periode tahun 2018 hingga 2023. Nama-nama di atas memiliki banyak penyingkatan, R.M.N adalah kepanjangan dari Ronggo Mas Ngabehi, R.T.A merupakan kepanjangan dari Raden Tumenggung Adipati, R.T merupakan kepanjangan dari Raden Tumenggung, dan K.R.T.A.A. merupakan Kanjeng Raden Tumenggung Ario Adipati.
- 1
- 2