- Persekutuan dalam kepemilikan harta, terdapat dalam Surah An Nisa ayat 12
- Persekutuan dalam merasakan adzab di akhirat, terdapat dalam Surah Az Zukhruf ayat 39
- Persekutuan dalam kekuasaan atau penciptaan antara Allah dengan berhala-berhala atau makhluk lain ciptaan Allah, terdapat dalam Surah Yusuf ayat 106 dan Al Imran ayat 36.
Ar-Raghib Al-Asfahaniy mengatakan jika syirik dibagi menjadi dua, yakni:
1. Syirik Al Akbar atau syirik besar
Syirik ini dalam hal bidang keyakinan, yakni meyakini adanya Tuhan selain Allah atau menyekutukan Allah dengan makhluk ciptaannya dalam hal ketuhanan.
2. Syirik Al Ashgar atau syirik kecil
Baca Juga:Bikin Merinding, Youtuber Ujang Bustomi Buka Museum Santet di Cirebon
Syirik ini berupa menyekutukan Allah dalam tujuan beribadah atau beramal kebaikan. Seseorang beribadah dengan tujuan memperoleh pujian dari orang lain. Padahal seharusnya beribadah hanya untuk mendapatkan keridhaan dari Allah.
Kedua jenis syirik di atas hukumnya haram. Allah tidak akan mengampuni dosa itu sebelum seseorang bertaubat sebelum meninggal.
Bentuk syirik sangat banyak, namun Ibnu Dihaq mengkategorikan menjadi tiga, yakni:
1. Menyandarkan perbuatan pada bintang-bintang. Bintang itu berpengaruh kepada alam yang ada dibawahnya, seperti tumbuhan, hewan dan segala materi. Untuk zaman sekarang, ketegori ini digambarkan dalam zodiak dan astrologi.
2. Menyandarkan perbuatan pada benda-benda. Ia meyakini jika perbuatan itu mampu memberikan efek dan sudah pasti terjadi tanpa ada campur tangan kehendak Allah.
Baca Juga:3 Postingan Kontroversial Five Vi, Soal Rokok hingga Lagu Ya Thoybah
Misalnya, orang meyakini api bisa membakar barang dengan sendirinya, pisau bisa memberi luka dengan sendirinya dan lain-lain. Pada intinya semua benda atau kejadian diyakini tidak ada kehendak Allah.