Pagelaran itu merupakan ajang pagelaran seni dan budaya Asia-Pasifik yang tertua di Belanda. Padahal sebelumnya, kesenian tersebut sempat mati suri selama kurang lebih 30 tahun.
Selama orde baru, warga Tiong Hoa dibatasi dalam bereskpresi. Perayaan Imlek dilarang. Seni budaya dari Tionghoa tak boleh ditampilkan di muka umum. Baru pada pada masa pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, kesenian itu hidup kembali.
Karena Gus Dur mencabut Instruksi Presiden atau Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan perayaan Tahun Baru Imlek di tempat-tempat umum di Indonesia.
Pada tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres tersebut dengan mengeluarkan Keppres nomor 6 tahun 2000 tentang pencabutan Inpres Nomor 14 tahun 1967.
Baca Juga:Soal Foto Bareng Lukisan Gus Dur Bertelanjang Dada, Mahfud MD: Justru Menghormati Jati Diri..
Keppres tersebut menjadi awal bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia mendapatkan kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, serta adat istiadat mereka, termasuk upacara keagamaan seperti Imlek secara terbuka.
Itulah angin segar bagi kaum Tionghoa. Tono Harsono sendiri akhirnya bisa mengembangkan wayang Potehi. Bahkan saat ini budaya tersebut sudah berkibar di tingkat internasional. Toni pentas di berbagai tempat.
"Kalau tidak ada Gus Dur, orang tidak akan mengenal wayang potehi. Jasa beliau sangat besar terhadap warga Tionghoa," ujar Tok Hok Lay yang disambut tepuk tangan hadirin.
Toni kembali menceritakan warga Pecinan di Semarang terhadap Gus Dur. Ia mengatakan, belum lama ini Ia mengirimkan menu kesukaan Gus Dur, kikil abang Mojosongo Jombang ke warga Tionghoa di Semarang.
"Itu bentuk kecintaan mereka terhadap Gus Dur," ujar Tok Hok Lay mengakhiri testimoninya.
Baca Juga:Ibu Erina Tak Kunjung Lepas Salaman Istri Gus Dur Saat Bertemu di Pelaminan, Publik Terenyuh