Arif pun bercerita, mulanya ia mengaku terpuruk saat dirinya diringkus polisi dan dijebloskan ke Lapas Kelas II B Mojokerto. Akibat dirinya yang tersangkut kasus jual beli narkotika dan harus menjalani hukuman kurungan 7 tahun 3 bulan.
Namun, di tengah keterpurukan itu ia kemudian memilih bangkit saat mendapatkan informasi adanya pelatihan membuat sepatu dan handbag dari pihak Lapas. Pemuda ini pun akhirnya mendaftarkan diri dan ikut serta dalam pelatihan selama 3 bulan itu.
"Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan di sini, akhirnya bisa membuat produk tas ini bersama teman-teman. Lumayan meskipun berada di sini (penjara), saya masih bisa produktif," ungkap Arif yang sudah menjalani hukuman selama 2 tahun.
Untuk harga handbag yang diproduksi warga binaan ini, lanjut Arif cukup bervareasi, berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Tergantung dengan bahan kulit dan kanvas yang digunakan serta tingkat kerumitan desain sesuai dengan pesanan customer.
Baca Juga:Hotman Paris Turun Tangan, Keponakan Di-KDRT Suami, Polisi Jebloskan Hapsan ke Tahanan
"Tergantung model, semakin rumit desain pola, otomatis harga juga akan naik. Sama jenis bahan juga mempengaruhi harga jual," ucapnya.
Arif pun sama dengan lima orang rekannya itu, mereka memiliki keinginan bisa mendapatkan keringanan hukuman dan lekas keluar dari Lapas Kelas II B Mojokerto. Dengan harapan, kedepan para narapidana ini bisa mendirikan usaha handbag sendiri.
"Bisa membuat usaha sendiri, kalau bisa punya home industri buat tas, sandal, sepatu seperti itu," tukas Arif.
Produktifitas para narapidana ini tak lantas tanpa kompensasi. Sebab, pihak Lapas Kelas II B Mojokerto memang membagi hasil penjualan produk dengan para warga binaan. Besarannya pun cukup lumayan, mencapai 35% dari hasil laba bersih penjualan.
"Mereka dapat 35% dari hasil bersih penjualan produk. Ini bisa jadi motivasi mereka untuk tetap percaya diri dalam bekerja, atau usaha nantinya saat sudah bebas," kata Kasubsi Kegiatan Kerja Didik Harianto.
Baca Juga:4 Wisata Hits Instagramable di Mojokerto, Dijamin Auto Gagal Move On!
Didik menyatakan, para napi yang beraktivitas di bengkel kerja Lapas Kelas II B Mojokerto merupakan warga binaan yang sudah mendapatkan pelatihan. Ia pun mengaku bangga lantaran para warga binaan ini mampu bangkit meski dalam masa hukuman.