- Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, membawa berkah ekonomi bagi pengemudi ojek lokal.
- Pendapatan para pengemudi ojek meningkat signifikan hingga mencapai Rp400 ribu per hari selama acara.
- Kelompok ojek lokal menerapkan sistem antrean untuk melayani peserta Muktamar secara tertib.
SuaraJatim.id - Gelaran Muktamar ke-35 NU atau Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tak hanya menjadi forum penting bagi warga Nahdliyin. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Salah satunya dirasakan para pengemudi ojek lokal. Meningkatnya mobilitas selama pelaksanaan Muktamar membuat pendapatan mereka ikut meningkat dibandingkan hari-hari biasa.
Sejumlah pengemudi ojek tampak bersiaga di sekitar kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum untuk melayani peserta yang membutuhkan transportasi. Mereka mengantar penumpang dari lokasi sidang menuju penginapan maupun sejumlah tujuan lain, termasuk kawasan wisata religi Tebuireng.
Salah seorang pengemudi ojek lokal, Rofiq, mengatakan pendapatannya selama Muktamar meningkat cukup signifikan.
Baca Juga:Profil Gus Kikin, Ketum Baru PBNU: Pewaris Sanad Hasyim Asyari hingga Pengusaha
Jika biasanya ia memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari, selama Muktamar pendapatannya bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
"Muktamar ini membantu teman-teman ojek untuk mempercepat arus angkut peserta. Lumayan menambah rezeki dan membantu ekonomi," ungkap Rofiq melansir laman MUI, Senin (31/8/2026).
Dalam sehari, Rofiq dan rekan-rekannya bisa mengangkut sekitar 10 hingga 15 penumpang. Tarif perjalanan bervariasi, mulai Rp10 ribu, Rp15 ribu hingga Rp50 ribu, tergantung jarak yang ditempuh.
Untuk perjalanan dengan jarak hingga sekitar 15 kilometer, tarif biasanya disepakati antara pengemudi dan penumpang. Tak jarang, penumpang juga memberikan uang tambahan secara sukarela.
Namun, meningkatnya permintaan jasa transportasi juga menghadirkan tantangan. Menurut Rofiq, sebagian peserta Muktamar belum mengetahui secara detail lokasi tujuan sehingga pengemudi terkadang harus meluangkan waktu lebih untuk mencari alamat.
Baca Juga:Gus Kikin Nahkodai PBNU 2026-2031, Terpilih Lewat Mekanisme AHWA untuk Pertama Kali
Agar pelayanan tetap tertib dan tidak terjadi persaingan antar-pengemudi, kelompok ojek lokal tersebut menerapkan sistem antrean. Dengan demikian, setiap pengemudi mendapat kesempatan yang sama untuk mengangkut penumpang.
"Kami buat sistem antrean biar tidak rebutan. Anggota di sini ada sekitar 50 orang yang siap melayani penumpang," katanya.
Bagi para pengemudi ojek, kehadiran Muktamar ke-35 NU menjadi momentum yang tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga membuka peluang tambahan penghasilan.
Perhelatan besar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas berskala nasional dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar, termasuk para pekerja sektor informal yang ikut mengambil bagian dalam mendukung kelancaran mobilitas selama Muktamar.