Berharap ingin pulang
Harapan ingin pulang bukan hanya ada di benak anak-anak.Tajul Muluk adalah koordinator pengungsi sejak keluar dari tanah kelahiran. Seperti Hamdi, laki-laki berusia 46 tahun itu juga ingin pulang ke kampung halaman.
“Upaya kami terus menyuarakan bahwa pulang itu harga mati, bahwa kami harus pulang, kejadian Sampang jangan jadi warisan buruk bagi generasi berikutnya,” katanya.
Namun, ia tak berpangku tangan menunggu kapan bisa pulang. Masa depan anak-anak dua kampung itu tetap dipikirkan di tanah rantau.
Ia mengupayakan anak-anak Sampang mendapatkan pendidikan dasar, fasilitas yang awalnya susah didapat.
Sebab susahnya mengakses kesemua itu adalah, kuatnya prasangka buruk tentang mazhab Islam Syiah.
Susah dapat sekolah
Ketika tiba di Sidoarjo enam tahun lalu, banyak anak-anak Sampang yang ditolak sekolah di Jemundo lantaran mereka khawatir anak-anak bakal menyebarkan mazhab Islam Syiah.
Butuh tiga tahun bagi Tajul Muluk untuk meyakinkan pihak sekolah, agar 40 anak Sampang itu mendapatkan hak nya atas pendidikan.
Baca Juga: Ahlulbait Indonesia Tegaskan Muslim Syiah di Indonesia Bukan Kaum Minoritas
“Tahun 2016 mereka baru bisa bersekolah, setelah pindah ke sini tahun 2013, awal masuk ada yang dapat diskriminasi, tapi tidak berlangsung lama,”, lanjutnya.
Selain mendapatkan pendidikan formal, anak Sampang juga mengalami kesulitan saat hendak mengurus kartu identitas anak, serta administrasi lain seperti kartu kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Beragam pengakuan administrasi kependudukan itu baru didapatkan setelah tiga tahun tinggal di Jemundo.
"Sekarang syukur pemerintah sudah mulai memikirkan. Awalnya kami betul-betul dilepas. Tahun 2012 hingga 2015, pemerintah termakan isu ini itu, sampai mengirim intel kesini, mengorek informasi, ternyata tidak sesuai dengan realita yang ada," ujarnya sambil mendengar kicauan burung dalam sangkar di halaman rusun.
Ia bersyukur, anak-anak bisa bersekolah, dan beberapa orang tua perlahan mendapatkan pekerjaan, seperti mengupas kelapa tak jauh dari rumah susun.
Meskipun upah mereka tak banyak dan sudah terbiasa dengan kondisi ini, harapan Tajul Muluk dan 348 warga ingin bisa dipulangkan. Baginya, relokasi tidak menyelesaikan masalah dan pulang adalah keinginan terbesar mereka.
Berita Terkait
-
Ahlulbait Indonesia Tegaskan Muslim Syiah di Indonesia Bukan Kaum Minoritas
-
Mahasiswa Unsyiah Raih Juara di Forum Pemuda ASEAN
-
Bentrok Demonstran Syiah dengan Polisi Nigeria, 8 Orang Tewas
-
Protes di Gedung Parlemen Nigeria, Puluhan Umat Syiah Ditangkap Polisi
-
Potret Langka, Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah Indonesia Buka Puasa Bersama
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Nekat Jualan Dekat Masjid, Toko Miras di Blitar Akhirnya Digembok
-
Rekor MURI Esther Irawati: Profesor AI Perempuan Termuda RI yang Perangi Hoaks Lewat Mata Digital
-
Enam Penghargaan untuk BRI Group, Bukti Kinerja dan Transformasi Berkelanjutan
-
Pemuda Trowulan Tewas Hantam Bokong Dump Truk yang Parkir di Bahu Jalan
-
Siswi di Pamekasan Melahirkan Bayi Tak Bernyawa, Pelaku Ayah Kandung Sendiri