SuaraJatim.id - Pengembang rumah syariah Perumahan Green Ar-Rayah, Gayungan, Surabaya memanipulasi pajak. Cara licik ini dibongkar Kepolisian Surabaya.
Direktur PT JSI pemilik perumahan Green Ar-Rayah, Gayungan, Surabaya Moch Ramadhani ditangkap setelah hunian berkedok syariah yang dijualnya memanipulasi pajak. Sehingga ada dugaan merugikan negara.
“Unit Harda Satreskrim Polrestabes Surabaya akhirnya menggeledah kantor operasionalnya di Jalan Taman Menanggal Indah dan Gayungan PPN, Gayungan Surabaya. Hasilnya pihak kepolisian menemukan dokumen pembangunan perumahan yang tidak sesuai peraturan perundang-undangan,” jelas Kanit Harda Satreskrim Polrestabes Surabaya Iptu Giadi Nugraha, Jumat (15/5/2020).
Para pengembang nakal ini menggunakan sertifikat hak milik (SHM) seharusnya atas nama perusahaan bukan atas nama pribadi. Dengan belum menyelesaikan kewajibannya tersebut diduga tersangka menghindari beberapa pajak dan retribusi yang akhirnya merugikan negara.
Salah satu kewajiban yang diduga dihindari adalah pembayaran pajak BPHTB sebesar lima persen. Tersangka juga tidak wajib membangun fasilitas umum (fasum) untuk pembangunan 10 unit rumah yang dipasarkan.
“Kerugian negara ini belum termasuk retribusi lain yang tidak akan dibebankan pada tersangka jika yang dijual dalam bentuk SHM atas nama pribadi,” terangnya.
Pengungkapan ini tak lepas dari kasus perumahan berkedok syariah fiktif sebelumnya. Setelah diselidiki polisi menemukan adanya kecurangan pengembang untuk menghindari kewajibannya pada negara.
Hingga akhirnya polisi menemukan PT JSI ini yang menggunakan modus sama dalam menjual unitnya yang bearda di atas tanah seluas 573 meter persegi di wilayah Gayungan.
“Kami selidiki apa saja kecurangannya ternyata banyak yang memanipulasi setoran pajak ke negara,” terangnya.
Baca Juga: Kronologi Oknum Polisi Tembak Istri dan Pria Selingkuhan di Rumah
Ia mengatakan, dengan ditangkapnya tersangka ini pihaknya mencegah adanya korban yang lebih banyak karena praktek perumahan yang tidak sesuai prosedur tersebut.
Dari 10 unit yang ditawarkan baru dua unit yang terjual. Polisi menyita uang Rp 800 juta yang merupakan uang muka dari konsumen masing-masing 50 persen.
“Dua konsumen ini masing-masing setor Rp 400 juta untuk yang muka. Satu unit rumah dijual seharga Rp 800 jutaan, ini murah padahal berada di kawasan elit,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Ketika Tujuh Nyawa Mengubah Arah Indonesia: 5 Fakta Tragedi G30S
-
Niat Perbaiki Pompa Air, Lansia di Madiun Tewas Usai Terperosok ke Sumur 20 Meter
-
Empat Residivis Curanmor Dibekuk Jatanras Polda Jatim, 13 Motor Jadi Sasaran
-
Pilu! Korban KM Virgo Transport 8 Dimakamkan di Madiun, Tinggalkan Istri dan Empat Anak
-
Endang Tirtana Soroti Tantangan Generasi Muda di Tengah Perkembangan AI