SuaraJatim.id - Satgas Penanganan Covid-19 Jatim mewaspadai munculnya klaster virus corona baru saat sekolah di Jawa Timur dibuka. Sebab pemerintah pusat mengeluarkan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka.
Dalam perubahan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri ini, izin pembelajaran tatap muka diperluas ke zona kuning dari sebelumnya hanya di zona hijau.
Prosedur pengambilan keputusan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan secara bertingkat seperti pada SKB sebelumnya.
Pemda/kantor/kanwil Kemenag dan sekolah memiliki kewenangan penuh untuk menentukan apakah daerah atau sekolahnya dapat mulai melakukan pembelajaran tatap muka.
Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, Joni Wahyuadi menjelaskan pembukaan sekolah tatap muka harus menunggu wilayah tersebut menjadi zona hijau.
Dokter Joni tidak ingin terjadi klaster penyebaran baru Covid-19 di sekolah.
“Menurut saya harus hijau dulu, Rate of Transmision (Rt) haru di bawah 1 dulu. Artinya, penularan turun atau tidak ada case, sehingga kans timbulnya penyakit itu kecil. Kita harus belajar dari pengalaman China saat membuka pendidikan tatap muka. Meski dibuka dengan protokol ketat, justru masih ditemukan penyebaran kasus baru,” jelas dia kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (8/8/2020).
Dia menjelaskan, kasus pada anak-anak memang rendah di Jatim. Namun, jika dibuka tanpa mempertimbangkan kajian epidemiologi akan sangat berbahaya.
Dokter Joni juga menilai ada perbedaan klinis antara anak-anak dengan orang dewasa.
Baca Juga: Pemerintah Izinkan Sekolah Zona Kuning Hijau, DPR: Prioritaskan PJJ
“Memang case pada anak-anak tidak banyak. Cuma pada anak-anak klinisnya beda dengan dewasa, sehingga harus hati-hati. Ini karena penerapan protokol kesehatan pada anak-anak sangat sulit, mereka kan kalau udah ketemu temannya seperti itu, makanya harus hati-hati,” tuturnya seperti dilansir Beritajatim.com.
Dokter Joni menyarankan jika sekolah hendak dibuka, harus dilakukan prakondisi terlebih dahulu. Hal ini dengan melakukan simulasi dengan melihat perilaku anak-anak, adanya proteksi ketat dan evaluasi.
Selain itu, evaluasi ini dilakukan dengan sistem periodisasi testing untuk memastikan apakah ada kasus konfirmasi baru atau tidak.
Apabila tidak ada, maka sekolah bisa mulai dibuka.
“Anak-anak gejala tidak terlalu khas, jadi harus hati-hati. Bahkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan harus hati-hati,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar
-
Bantah Intervensi Kasus Narkoba DPRD Jatim, Gerindra Malah Ungkap Polisi Minta Uang Rp50 Juta
-
Terendam Banjir, Petani Bawang Merah di Tulungagung Panen Lebih Awal
-
Lahar Hujan Semeru Terjang Permukiman, Tiga Rumah Rusak dan 117 KK Terisolasi
-
Demi Ingat Aksi Sadisnya! Dwi Bagus Simpan Foto Lokasi Pembakaran Korban hingga Mesin Penggiling
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Banjir Rendam Sawah, Petani Bawang Merah Tulungagung Rugi Belasan Juta
-
Hampir Mati Sia-sia! Detik-detik Pria Tulungagung Batal Jadi Tentara Bayaran Rusia
-
Kasus Penyadapan Prabowo, Haedar Nashir Beri Pesan Menohok ke Polri
-
Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali dalam Tiga Jam, Awan Panas Meluncur hingga 4,5 Kilometer
-
Politisi Gerindra Singgung Penyandang Dana Kasus Penyadapan Prabowo, Siapa Dia?