"Baru dua tahun ini katarak saya, nggak usah di obatin buat apa biarkan saja kayak gini nggak apa-apa. Masih bisa melihat walaupun cuma samar-samar," ucapnya.
Melihat kondisinya yang sudah membungkuk dan penglihatan yang mengurang, Suwaji mengaku banyak anak muda yang merasa iba terhadapnya. Terutama mahasiswa-mahasiswa di sekitar kawasan kampus yang biasa membeli baksonya.
"Sering saya itu dibantu sama anak-anak muda di sini. Biasanya mereka anak-anak kuliahan. Ada juga anak yang datang dari jauh membantu dengan sekedar melariskan dagangan bakso saya seperti sampean ini," ungkapnya sembari menghidangkan es jeruk.
Bahkan sempat suatu waktu ketika momen bulan puasa, Suwaji dilarang oleh anak-anak yang membantunya untuk berjualan. Ia diminta untuk istirahat di rumah selama satu bulan berpuasa sambil menemani sang istri. Sementara kebutuhan ekonomi selama satu bulan akan di suplai oleh mereka.
"Waktu puasa itu sering banget di kasih roti, di suruh libur juga. Dijanjikam disamperin di rumah dibantu. Jadi nggak boleh keluar sama sekali nemenin Mbah Putri," lanjutnya.
Sebenarnya Suwaji tidak ingin melakukan hal tersebut, ia mengaku ketika tidak beraktivitas tubuhnya justru merasakan pegal-pegal. Ia memilih setiap hari untuk berjualan.
"Saya itu nggak mau libur, soalnya kalau libur itu badan malah sakit semua. Gak ngapa-ngapain badan gak gerak jadi keju (nyeri) rasanya," katanya.
Suwaji sangat senang banyak anak-anak muda yang masih peduli dengan kondisi orang tua. Anak cucu pria bertopi koboi ini juga masih mengingatnya hingga sampai kini.
Setiap dua minggu sekali, anak cucunya yang tinggal di luar kota selalu mengunjunginya secara rutin. Ia bersyukur akan hal itu.
Baca Juga: Cara Penjual Bakso Mengikat Plastik saat Panas Ini Bikin Melongo
"Anak saya ada 4, dua laki, dua perempuan. Semuanya ada di luar kota, ada di Sukodono, Madiun, Balongpanggang. Dua minggu sekali nyamperin terus nginep sehari pulang," kata Suwaji.
Adanya pandemi Covid-19, rupanya membuat anak cucunya sempat tak bisa menengoknya selama hampir 2 bulan lebih karena aturan yang melarang masyarakat untuk berpergian ke luar kota akibat PSBB beberapa waktu lalu.
"Gara-gara musim pagebluk ini anak cucu saya gak bisa nyambangi. Mereka juga ribut ngurusi sandang pangannya sendiri. Kalau sekarang bisa melihat anak senyum tok wes senang, di sambangi ya tambah senang," ungkap Suwaji yang mengaku rindu.
Bapak 4 anak ini juga mengaku telah ditinggal sosok ayah sejak masih di dalam kandungan yang berusia 9 bulan. Ketika lahir ia tak pernah melihat wajah ayahnya.
Ibunya mengurus sendiri 6 anak. Sehingga ia tak pernah menikmati rasanya mengenyam pendidikan formal.
"Mbah niki mboten sekolah sama sekali, waktu kecil bapak sudah meninggal, ibu ditinggali 6 anak, dan saya yang terakhir. Belajarnya saya ya hanya dari ngaji," jelasnya sambil mengingat masa kecilnya.
Berita Terkait
-
Mata Tua Bersinar Kembali: Kemensos Bagi-Bagi Harapan Lewat Operasi Katarak Gratis di 5 Kabupaten
-
Baksos Operasi Katarak BCA Bangun Harapan, Buka Jalan Hidup Masyarakat yang Lebih Produktif
-
Katarak yang Tidak Dioperasi Berisiko Meninggal Dunia Lebih Awal, Ini Alasannya
-
Konsistensi Lawan Katarak Kongenital, Optik Ini Raih Penghargaan Nasional
-
Dari Kegelapan Menuju Cahaya: Bagaimana Operasi Katarak Gratis Mengubah Hidup Pasien
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
BRI Dukung Program Perumahan Nasional untuk Hadirkan Hunian Layak bagi Masyarakat
-
TPS Surabaya Catat Pertumbuhan Month-on-Month, Kontribusi Internasional Jadi Penopang
-
Gubernur Khofifah Lantik 128 Kepala Sekolah, Tekankan Cetak SDM Unggul Jawa Timur
-
Viral Guru Ngaji Banting Murid di Probolinggo, Buntut Mobil Tergores Sepeda
-
Polisi Bongkar Prostitusi Twin Tower Surabaya, Satu Tersangka Diamankan