Scroll untuk membaca artikel
Pebriansyah Ariefana
Rabu, 03 November 2021 | 14:07 WIB
Ilustrasi berdoa atau sholat. [Hasan Almasi/Unsplash]

Sementara itu, ahlis tafsir klasik, Imam Ibnu Kastsir mengatakan jika dalam ayat itu perintah ibadah piasa ditujukkan kepada orang-orang yang beriman. Menurut dia, orang beriman yakni orang-orang yang membenarkan dan mengikrarkan keimanannya kepada Allah SWT.

Dalam Al Baqarah ayat 183 disbeutkan jika kewajiban puasa telah dibebankan kepada umat sebelum Nabi Muhammad. Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud umat sebelumnya adalah ahli kitab.

Sedangkan menurut Imam al Alusi, umat sebelum Nabi Muhammad terhitung sejak Nabi Adam sampai sekarang sebagaimana yang ditunjukkan dilalah keumuman lafadnya, yaitu isim mushul.

Adanya penggambaran kewajiban puasa sebagaimana umat terdahulu memiliki arti tersendiri. Redaksi itu sebagai penguat hukum dan pemberi semangat dalam menjalankan ibadah puasa. Sebab, hal yang sulit jika dilakukan banyak orang dan menjadi kebiasaan, akan terasa ringan dan mudah.

Baca Juga: Ingin Coba Puasa Intermiten? Ini 4 Hal yang Harus Anda Lakukan

Dalam ayat itu juga dijelaskan jika puncak orang yang berpuasa yakni menggapai ketakwaan. Puasa sebagai sarana bertakwa kepada Allah karena bisa menundukka nafsu dan mengurangi sahwat yang menjadi jalan maksiat.

Imam As-Suyuthi di Kitab Tafsir Jalalain mengatakan, maksdu kata takwa dalam ayat itu yakni bertakwa dari perbuatan maksiat. Ketakwaan sosial juga harus ditingkatkan, sehingga berimbang antara hubungan dengan Allah dan manusia.

Demkian penjelasan tentang Al Baqarah ayat 183. Semoga bermanfaat sebagai ilmu pengetahuan khususnya di dalam hal kewajiban berpuasa.

Kontributor : Muhammad Aris Munandar

Baca Juga: Puasa Intermiten Makin Populer, Benarkah Bagus untuk Menurunkan Berat Badan?

Load More