Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Taufiq
Rabu, 06 April 2022 | 14:15 WIB
Ilustrasi Puasa - Puasa Ramadhan Hukumnya (Pixabay)

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.” Lafal niat di atas termaktub dalam Kitab Asnal Mathalib.

Kata “Ramadhana” pada niat di atas menjadi mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda fathah, sedangkan kata “sanata” diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya. Baca Juga: Asal-usul Susunan Lafal Niat Puasa Ramadhan

3. "Nawaitu shauma ghadin ‘an ad’i fardhi syahri Ramadhni hdzihis sanati lillhi ta‘l"

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Baca Juga: Minuman Segar Khas Bali yang Cocok Untuk Takjil Buka Puasa Ramadhan

Lafal niat di atas dikutip dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam. Kata “Ramadhani” dianggap sebagai mudhaf ilaihi yang juga menjadi mudhaf sehingga diakhiri dengan kasrah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarr-nya. Sementara kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr atas musyar ilaih kata "hdzihi" yang menjadi mudhaf ilaihi dari "Ramadhani".

4. "Nawaitu shauma Ramadhna"

Artinya, “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”

5. "Nawaitu shauma ghadin min/'an Ramadhna"

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.” Lafal niat 4 dan 5 diambil dari dari Kitab I’anatut Thalibin."

Baca Juga: Ingat-ingat Lagi, 10 Hal yang Membatalkan Puasa Ramadhan

6. "Nawaitu shaumal ghadi min hdzihis sanati ‘an fardhi Ramadhna"

Load More