- Reshuffle perdana Prabowo bikin IHSG anjlok 1,28%.
- Pasar cemas atas hilangnya figur Sri Mulyani.
- Saham rokok malah menguat, harap kebijakan baru.
SuaraJatim.id - Keputusan Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan atau reshuffle kabinet perdananya langsung disambut reaksi negatif oleh pasar keuangan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat rontok 100,49 poin atau 1,28 persen ke level 7.766 pada penutupan perdagangan, Senin (8/9/2025).
Kalangan pengusaha menilai, kecemasan investor ini merupakan respons wajar, terutama akibat hilangnya figur Sri Mulyani Indrawati dari posisi krusial sebagai Menteri Keuangan.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyatakan bahwa para investor saat ini mengambil sikap menunggu (wait and see) untuk memahami arah kebijakan ekonomi dari para menteri baru.
Menurutnya, tujuan perombakan kabinet ini sejatinya adalah untuk efisiensi dan penguatan kinerja pemerintahan.
“Tujuan reshuffle kabinet jelas untuk meningkatkan efisiensi dan memperkokoh kinerja pemerintahan terutama dalam mendorong perekonomian nasional. Jadi reaksi pasar yang turun sementara ini hal biasa,” kata Adik Dwi Putranto di Surabaya, Senin (8/9/2025)
Sorotan utama pelaku pasar dan pengusaha tak lain tertuju pada kursi Menteri Keuangan. Sosok Sri Mulyani, yang dikenal sangat disiplin dan prudent dalam mengelola kebijakan fiskal, telah membangun reputasi kuat di mata investor domestik maupun global.
Kehati-hatian dan kebijakan fiskal yang ketat selama masa jabatannya dianggap sebagai jangkar stabilitas ekonomi Indonesia.
“Begitu terjadi pergantian, wajar kalau pasar bereaksi negatif dulu. Investor masih menunggu arah kebijakan dari Menteri Keuangan yang baru. Intinya, kepercayaan pasar harus segera dibangun kembali,” katanya.
Baca Juga: Prabowo Sindir Isu Retak dengan Jokowi: Lucu Juga, untuk Bahan Ketawa Boleh
Adik mengingatkan bahwa Menteri Keuangan yang baru mengemban tantangan besar.
Ia dituntut untuk menjaga defisit fiskal tetap terkendali di level 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sembari mengejar target ambisius pertumbuhan ekonomi di angka 6-6,5 persen pada 2026.
Menurutnya, target tersebut hanya bisa tercapai jika kebijakan fiskal tetap kredibel, disiplin, dan pro-pertumbuhan.
“Kepercayaan investor harus dijaga. Kalau kepercayaan sudah pulih, dana asing akan masuk kembali ke Indonesia,” katanya.
Harapan Baru Industri Rokok dan Sektor UKM
Di tengah sentimen negatif yang melanda bursa, sektor industri hasil tembakau (IHT) justru menunjukkan anomali dengan mencatatkan penguatan saham.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP
-
Cekcok Pagi Berujung Maut, Pria di Blitar Tewas Dihantam Gagang Cangkul Tetangga
-
Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun
-
Dituding Jadi Imam Mahdi dan Bawa Kabur Rp1,3 Miliar, Figar Siap Lawan di Jalur Hukum
-
Sandera Bus Sendiri, Lepas Bus Lawan: Malam Horor Persebaya Diadili Bonek di GBT