- Surat Yasin ayat 38 menegaskan matahari bergerak sesuai ketentuan Allah, bukti ilmu dan kekuasaan-Nya.
- Gerak matahari mengajarkan keteraturan dan ketaatan; tiap ciptaan memiliki waktu dan batas ketetapan.
- Ayat ini menjadi pelajaran iman bahwa alam tunduk pada Allah, dan manusia pun harus hidup selaras. Kunjungi https://islam.suara.com/home
SuaraJatim.id - Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang tidak hanya membimbing manusia secara spiritual, tetapi juga membuka rahasia alam semesta. Ingin membaca lengkap bisa kunjungi link ini: https://islam.suara.com/home
Salah satu ayat yang sering menjadi perhatian para ahli tafsir dan ilmuwan adalah Surat Yasin ayat 38, yang berbunyi:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Itulah ketetapan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38)
Ayat ini menunjukkan bahwa alam semesta tidak berjalan acak. Semua bergerak sesuai ketentuan dan kehendak Allah ﷻ. Berikut lima makna besar yang bisa direnungkan dari ayat ini, baik dari sisi keilmuan maupun keimanan sebagaimana dikutip dari YouTube Rombongan Ngaji.
1. Al-Qur’an Telah Menjelaskan Fakta Ilmiah Sebelum Ditemukan Manusia
Kata “tajri” dalam ayat ini berarti “mengalir” atau “bergerak dengan cepat”. Artinya, sejak 14 abad lalu Al-Qur’an telah menegaskan bahwa matahari bukan benda diam.
Kini, sains membuktikan bahwa matahari bergerak mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan sekitar 720.000 km per jam.
Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan dalam Al-Qur’an selalu relevan dengan zaman. Keteraturan gerak matahari menunjukkan adanya sistem yang sempurna, bukan hasil kebetulan.
Setiap planet, termasuk bumi, berputar dan bergerak mengikuti garis orbit yang telah ditetapkan oleh Allah.
Baca Juga: Kisah Ashabul Qaryah dalam Surat Yasin: Pelajaran Berharga dalam Dakwah yang Penuh Tantangan
2. “Mustaqar” Menunjukkan Bahwa Semua Ada Waktunya
Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa matahari berjalan di tempat peredarannya “hingga waktu yang ditentukan”. Para ulama menafsirkan kata “mustaqar” memiliki dua arti.
Pertama, sebagai tempat peredaran yang tetap, menandakan keteraturan gerak. Kedua, sebagai waktu berhenti, yaitu ketika hari kiamat tiba.
Dengan demikian, matahari terus bergerak tanpa henti sampai tiba masa berhentinya. Ini bukan sekadar penjelasan fisik, tetapi pesan spiritual bahwa setiap ciptaan Allah memiliki waktu dan batasnya masing-masing.
Sama seperti matahari yang suatu saat akan berhenti, kehidupan manusia pun akan berakhir pada waktunya.
3. Bukti Kekuasaan dan Ilmu Allah yang Tak Terbatas
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Buntut 198 Siswa dan Guru Tumbang Usai Santap MBG, SPPG di Tulungagung Disetop 20 Hari
-
Pengedar Sabu Asal Madura Dicokok di Surabaya Demi Nyabu Gratis
-
Niat Tambah Nafkah Berujung Duka, Guru SDN 6 Kare Korban Tragedi KM Virgo Ditemukan Tewas
-
TP2DD Jatim Raih Penghargaan, Gubernur Khofifah Pastikan Digitalisasi Bermanfaat bagi Masyarakat
-
Putra Proklamator yang Rela Tidur di Gudang: Mengenang Kesahajaan Guruh Soekarnoputra