Riki Chandra
Kamis, 22 Januari 2026 | 14:05 WIB
Ilustras pencabulan. [Dok. ANTARA]
Baca 10 detik
  •  Santri korban pencabulan Bangkalan hilang dua pekan pascalaporan polisi.

  • Keluarga curigai upaya redam kasus lewat desakan lamaran.

  • Hilangnya korban hambat pengungkapan dugaan kekerasan seksual pesantren.

“Setelah S dilaporkan, pihak ponpes datang terus ingin melamar. Sudah sampai lima kali, tapi selalu kami tolak,” kata Fitriyah, dikutip dari BeritaJatim.

4. Dugaan Upaya Meredam Proses Hukum

Desakan lamaran yang dilakukan berulang kali memunculkan kecurigaan keluarga. Mereka menduga ada upaya sistematis untuk meredam kasus hukum yang tengah berjalan.

Kecurigaan ini menjadi bagian dari alasan keluarga terus mendesak aparat agar pengusutan dilakukan secara menyeluruh dan transparan.

5. Korban Didatangi Dua Santri Sebelum Menghilang

Sesaat sebelum dinyatakan hilang, korban diketahui sempat didatangi dua orang santri lain. Keduanya mengaku diutus oleh S.

Peristiwa ini semakin memperkuat dugaan keluarga bahwa hilangnya korban tidak terjadi secara kebetulan.

6. Dugaan Banyak Korban Lain yang Tak Melapor

Fitriyah mengungkapkan korban dugaan pencabulan diduga tidak hanya satu orang. Keluarga mengaku telah mendatangi sedikitnya lima korban lain.

“Ada banyak korban, tapi sebagian besar orang tuanya takut atau tidak mau melapor,” ujarnya.

7. CCTV Tak Merekam Saat Korban Pergi

Kecurigaan keluarga bertambah setelah mendapati kamera pengawas di sekitar rumah korban tidak merekam peristiwa saat korban pergi.

“CCTV yang biasanya aktif justru tidak merekam pada jam keponakan saya hilang. Ini sangat janggal dan kami menduga sudah direncanakan,” kata Fitriyah.

Hingga kini, santri korban dugaan pencabulan di Bangkalan masih belum ditemukan. Keluarga berharap korban segera ditemukan, sementara kondisi orang tua dan nenek korban dilaporkan jatuh sakit akibat tekanan psikologis berkepanjangan.

“Kami hanya ingin dia ditemukan. Orang tuanya sakit, neneknya juga drop,” tutup Fitriyah.

Load More