Wakos Reza Gautama
Rabu, 08 April 2026 | 12:50 WIB
Sosialisasi program parkir digital yang digelar Dinas Perhubungan bersama kepolisian di Surabaya berujung ricuh. Dua kelompok terlibat aksi kekerasan dalam kegiatan yang berlangsung di kawasan Ruko Jalan Manyar Kertoarjo, Selasa (8/4/2026). [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Sosialisasi digitalisasi parkir oleh Dishub dan Polrestabes Surabaya di Jalan Manyar Kertoarjo memicu kericuhan pada Selasa, 7 April 2026.
  • Konflik terjadi akibat ketidaksepakatan pembagian hasil pendapatan parkir antara Pemerintah Kota Surabaya dengan para juru parkir setempat.
  • Ketegangan meningkat hingga aksi sweeping massa di malam hari, namun berhasil diredam melalui mediasi oleh aparat kepolisian setempat.

SuaraJatim.id - Ambisi Pemerintah Kota Surabaya untuk mendigitalisasi sektor perparkiran justru menemui jalan terjal yang berlumur emosi.

Kawasan pertokoan Jalan Manyar Kertoarjo yang biasanya hanya sibuk oleh hilir mudik kendaraan, berubah menjadi arena "perang" pada Selasa (7/4/2026).

Niat sosialisasi yang mulanya formal, berakhir dengan lemparan batu, siraman air, hingga aksi sweeping massa di kegelapan malam.

Ketegangan bermula saat matahari sedang terik-teriknya. Petugas gabungan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya dan Polrestabes Surabaya turun ke lapangan untuk satu misi yaitu mewajibkan para juru parkir (jukir) mengaktivasi rekening guna mendukung sistem non-tunai.

Namun, suasana cair mendadak membeku saat pembicaraan menyentuh angka sensitif yaitu bagi hasil. Pemkot bertahan di angka 60 persen untuk daerah dan 40 persen untuk jukir.

Sebaliknya, para jukir menganggap angka itu mencekik leher. Mereka menuntut porsi 70 persen, plus paket perlindungan berupa asuransi kendaraan hilang serta jaminan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

"Asuransi kehilangan ya ditanggung pemerintah dong. Jukir ini profesi penuh risiko, kami butuh BPJS," cetus Izul Fikri, salah satu koordinator lapangan, Rabu (8/4/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Situasi memuncak saat adu mulut berubah menjadi aksi saling dorong. Di tengah kekacauan itu, muncul sosok bernama Purnama.

Kehadirannya justru memicu api amarah jukir. Purnama mengaku dikasari, dihujani lemparan batu, hingga disiram air oleh massa jukir.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tap-In, Parkir Digital Surabaya Picu Ketegangan Jukir vs Pemkot

"Apa yang terjadi pada saya adalah wajah bagaimana jukir mengelola parkir; dengan premanisme dan anarkisme. Ini wajib diproses hukum," tegas Purnama lewat unggahan media sosialnya yang kemudian viral dan memantik kemarahan publik.

Viralnya video Purnama ternyata memicu efek domino yang berbahaya. Saat warga Surabaya mulai beristirahat, ketegangan justru merembet ke malam hari.

Sekitar pukul 21.00 WIB, sekelompok massa tak dikenal dalam jumlah besar mendatangi lokasi yang sama di Jalan Manyar Kertoarjo.

Kabar burung berhembus cepat. Mereka datang untuk melakukan sweeping terhadap jukir sebagai aksi balasan atas kejadian siang hari. Suasana mencekam menyelimuti kawasan ruko. Beruntung, aparat kepolisian tak kecolongan.

Kapolsek Gubeng, Eko Sudarmanto, bersama jajaran elit Polrestabes Surabaya langsung turun ke jalan untuk menyekat kedua kelompok agar tidak terjadi bentrokan terbuka.

Di bawah temaram lampu jalan dan pengawalan ketat aparat, mediasi mendadak dilakukan. Polisi berupaya meredam ego kedua belah pihak demi menjaga keamanan kota.

Load More