Wakos Reza Gautama
Sabtu, 23 Mei 2026 | 15:02 WIB
Ilustrasi Tenaga Kerja. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur turun menjadi 3,55 persen per Februari 2026. [Ist]
Baca 10 detik
  • BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur turun menjadi 3,55 persen per Februari 2026.
  • Program link and match antara pendidikan vokasi dan industri berhasil meningkatkan daya saing tenaga kerja internasional.
  • Sektor pertanian tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar meski masih didominasi oleh bidang pekerjaan informal.

SuaraJatim.id - Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di wilayah Jawa Timur menyusut hingga ke angka 3,55 persen.

Angka ini bukan hanya sekadar prestasi di atas kertas, tetapi sebuah lompatan besar jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang masih berada di angka 4,68 persen. Jawa Timur resmi menjadi salah satu provinsi dengan serapan tenaga kerja paling efisien di Indonesia.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut capaian ini dengan optimisme tinggi.

"Alhamdulillah, pengangguran di Jawa Timur semakin terkendali. Aktivitas ekonomi kita terus bergerak positif dan mampu menyerap tenaga kerja secara lebih luas," ujarnya di Surabaya, Sabtu (23/5/2026).

Kuncinya ada pada "perkawinan" antara dunia pendidikan dan industri. Lewat program link and match, lulusan sekolah vokasi di Jawa Timur kini didesain untuk langsung siap tempur di dunia kerja.

Tak tanggung-tanggung, sayap pekerjaan mereka kini merambah hingga ke mancanegara. Pada tahun 2026 saja, hampir lima ribu siswa dari 112 SMK dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) telah mengikuti program magang internasional. Hebatnya, 1.617 di antaranya sudah mengantongi perjanjian kerja resmi.

"Ini membuktikan bahwa lulusan SMK kita semakin kompetitif dan mendapat kepercayaan tinggi di pasar kerja internasional," tambah Khofifah.

Meski teknologi dan industri mulai meroket, Jawa Timur tak melupakan akarnya. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penyelamat utama dengan menyerap 31,76 persen dari total 24,25 juta penduduk yang bekerja.

Namun, di balik kegemilangan angka-angka tersebut, masih ada "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan. Struktur pasar kerja di Jatim masih didominasi oleh sektor informal yang mencapai 64,44 persen. Ini berarti, sebagian besar warga masih bekerja tanpa jaminan kontrak yang stabil atau perlindungan formal.

Baca Juga: Lepas Kloter Terakhir Embarkasi Surabaya, Khofifah Pesankan Jamaah Jaga Kesehatan

Bagi Khofifah, angka ini adalah tantangan untuk fase berikutnya. Pemerintah Provinsi berkomitmen untuk mendorong transformasi besar-besaran, mengubah pekerjaan informal menjadi lebih formal, produktif, dan berkelanjutan melalui penguatan UMKM dan industri padat karya modern.

"Transformasi ketenagakerjaan harus dilakukan secara komprehensif. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan kualitas, perlindungan, dan keberlanjutannya bagi seluruh warga," pungkasnya. (ANTARA)

Load More