- Harga plastik naik 60-70 persen berdampak pada UMKM.
- Pelaku UMKM tidak punya pilihan selain menaikkan jualannya imbas meroketnya harga plastik.
- Di satu sisi, kenaikan harga plastik bisa jadi momen diet plastik.
SuaraJatim.id - Fauzan tak punya pilihan lain. Pedagang es teh di kawasan Sedati, Sidoarjo itu terpaksa harus menaikkan harga barang dagangannya.
Sejak harga plastik naik, Fauzan harus memutar otak agar usahanya bisa tetap bertahan. "Mau enggak mau harus saya naikkan jadi Rp4 ribu, awalnya Rp3 ribu," ujar Fauzan kepada Suara.com belum lama ini.
Hampir semua barang yang dibutuhkan untuk jualan ikut melonjak, mulai dari gelas, sedotan, hingga kantong plastik. "Gelas plastik yang semula Rp13 ribu, sekarang jadi Rp22 ribu," katanya.
Ia tak memungkiri sempat mendapat banyak protes dari pelanggan usai menaikkan harga es teh jualannya. "Tapi mau gak mau ya harus menaikkan harga, Mas, daripada kerja bakti," ungkapnya.
Senada, CEO Sukrimu, Farid Firmansyah mengaku tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual susu forzen untuk menutup ongkos produksi. "Naik juga Mas, saya naikkan Rp1 ribu," kata Farid.
Pengamat Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya) Bambang Budiarto mengatakan, hebohnya kenaikan harga plastik menunjukkan semakin banyak saja komoditas menguasai hajat hidup orang banyak.
"Dulu kalau ngomong hajat hidup orang banyak itu kan intinya air, sumber daya alam, kan gitu tuh ya, terus BBM. Nah ternyata semakin lama semakin banyak saja itu menguasai hajat hajat hidup orang banyak. Salah satunya ya biji plastik ini," kata Bambang.
Salah satu sektor yang paling terdampak kenaikan harga plastik ialah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor ini paling ujung paling merasakan imbasnya.
"Untuk menekan itu, langkah pertama, identifikasi dan memetakan barang yang dimulai dengan kata bahan," sebutnya.
Baca Juga: Siasat Selamatkan UMKM Surabaya: Saat Harga Plastik Melejit 60 Persen, Inovasi Kemasan Jadi Kunci
Pemetaan dilakukan untuk mengetahui sisi mana yang menyebabkan harga bahan baku naik, dalam hal ini biji plastik. Jika sudah diketahui maka akan memudahkan mencari solusi atas kenaikan harga tersebut.
Misalkan, mengurangi impor biji plastik dengan menggenjot daur ulang. "Itu satu rangkaian dari sebuah kebijakan yang itu ada di pihak atau di kotak yang lain. Sebutlah itu sebagai substitusi alternatif untuk mencari solusi atas kenaikan ini," katanya.
Setelah itu yang bisa dilakukan pemerintah mengurangi penggunaan plastik dengan menggenjot iklan sosial.
Beberapa waktu lalu pemerintah gencar mengkampanyekan diet plastik, hal itu bisa dilakukan lagi untuk mengurangi ketergantungan. Bambang juga menyarankan menggandeng perguruan tinggi guna mencari pengganti yang ramah lingkungan.
"Nah kalau sudah terjadi seperti ini demikian ini, maka nah ini balik lagi jurus terakhir pemerintah yang harus untuk menyelamatkan UMKM, subsidi. Cuman sekarang ini ya repot. Semua efisiensi tapi minta subsidi," terangnya.
Bambang mengatakan, kenaikan harga plastik memang tidak serta Merta menyebabkan inflasi. Namun masih satu rangkaian yang dapat berkontribusi dalam meledakkan atau memunculkannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- Sabun Kojie San untuk Wajah atau Badan? Simak Kegunaan dan Kandungannya
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Nikmati Sensasi Nonton Istimewa, Ada Promo The Premiere Khusus Nasabah BRI
-
Detik-detik Evakuasi Bocah Tenggelam di Dasar Sungai Ponorogo, Kakinya Terjepit Batu
-
Utamakan Kesehatan, Nasabah BRI Private dan BRI Prioritas Nikmati Keistimewaan Prodia
-
Jejak CCTV Tak Bisa Bohong: Pasutri Muda di Banyuwangi Ditangkap Usai Buang Bayi
-
Catut Tanah Orang Lain Senilai Rp1,25 Miliar, Oknum Anggota DPRD Pasuruan Dipolisikan