Wakos Reza Gautama
Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:52 WIB
Ilustrasi Saham. OJK Jawa Timur mencatat pertumbuhan 1,2 juta investor saham hingga Mei 2026. [Dokumentasi IPOT]
Baca 10 detik
  • OJK Jawa Timur mencatat pertumbuhan 1,2 juta investor saham hingga Mei 2026 berkat digitalisasi dan literasi keuangan.
  • Nilai transaksi saham masyarakat Jawa Timur pada Januari 2026 melonjak 225 persen menjadi Rp72,74 miliar secara tahunan.
  • Pasar modal di Jawa Timur kini memasuki fase matang seiring meningkatnya diversifikasi portofolio dan investasi instrumen alternatif.

SuaraJatim.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur mencatat sebuah lompatan besar. Kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal nasional bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sudah menjadi fase kematangan ekonomi yang baru.

“Terdapat kepercayaan investor Jawa Timur terhadap pasar saham nasional yang masih terjaga,” ujar Kepala OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari, di Surabaya, Jumat (29/5/2026).

Data tak bisa berbohong. Jumlah investor saham di Jawa Timur kini menembus angka fantastis, yakni 1.205.606 orang atau tumbuh hampir 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tak hanya saham, instrumen reksa dana pun menjadi primadona dengan lebih dari 2,2 juta investor.

Peningkatan ini bukan tanpa alasan. Yunita menyebut digitalisasi layanan keuangan dan peningkatan literasi sebagai 'bahan bakar' utamanya.

Masyarakat kini tak lagi takut terjun ke bursa karena kemudahan akses platform digital yang memungkinkan mereka bertransaksi hanya dalam hitungan detik.

Gairah ini terpancar nyata dari nilai transaksi. Pada Januari 2026 saja, total transaksi saham warga Jatim mencapai Rp72,74 miliar, meroket 225 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Aktivitas jual-beli yang sangat dinamis ini mencerminkan kondisi pasar yang sedang bullish atau optimis.

Meningkatnya transaksi ritel (perorangan) menunjukkan bahwa strategi investasi bukan lagi milik kalangan elite semata, melainkan sudah menjalar ke masyarakat umum yang kian cerdas dalam mengelola strategi trading mereka.

Menariknya, kepercayaan ini juga menular ke instrumen alternatif seperti Securities Crowdfunding (SCF). Melalui SCF, sebanyak 7.938 pemodal di Jatim telah menyuntikkan dana sebesar Rp61,7 miliar untuk membantu pengembangan bisnis lokal, terutama di sektor barang konsumsi utama.

Di sisi lain, instrumen reksa dana juga menunjukkan performa gemilang. Segmen institusi (perusahaan) tumbuh masif sebesar 73,26 persen sepanjang 2025, membuktikan bahwa reksa dana telah menjadi pilihan profesional untuk mengelola dana besar di Jawa Timur.

Baca Juga: SPMB Jatim 2026 Dimulai! Ini Cara Ambil PIN Agar Tak Gagal Seleksi

Meski laju pertumbuhan investor ritel mulai melandai secara konsisten, Yunita melihat hal ini sebagai tanda positif. Artinya, pasar modal di Jawa Timur sedang memasuki fase yang lebih matang dan stabil.

Masyarakat kini tak hanya sekadar ikut-ikutan (FOMO), tetapi sudah lebih matang dalam menentukan pilihan dan melakukan diversifikasi portofolio.

“Ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor dan pentingnya instrumen investasi yang fleksibel serta mudah diakses di tengah perkembangan ekosistem digital,” pungkas Yunita. (ANTARA)

Load More