- Seorang pengunjung Skatepark Alun-Alun Magetan melakukan percobaan penendangan terhadap skater akibat perselisihan mengenai penggunaan area lintasan olahraga.
- Komunitas skater menyebut ketiadaan pagar pembatas antara area olahraga ekstrem dan taman bermain sebagai pemicu utama kerawanan kecelakaan.
- Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan merespons dengan mempertegas fungsi fasilitas melalui papan imbauan serta sosialisasi kepada seluruh pengunjung.
SuaraJatim.id - Papan kayu yang meluncur kencang di atas beton keras adalah pemandangan biasa di Skatepark Alun-Alun Magetan. Namun, baru-baru ini, bukan trik kickflip atau ollie yang menjadi buah bibir, melainkan sebuah ketegangan yang terekam kamera dan mendadak viral di jagat maya.
Sore itu, suasana latihan para skater terusik saat seorang pria membiarkan anaknya bermain di tengah lintasan beton yang curam.
Menyadari risiko tinggi cedera, baik bagi sang anak maupun para pemain, komunitas skater mencoba mengingatkan sang orang tua secara baik-baik. Mereka menyarankan agar sang anak bergeser ke area playground yang letaknya hanya beberapa meter di sisi timur.
Namun, niat baik tersebut berbalas dingin. Alih-alih mengerti, sang pengunjung justru diduga bereaksi emosional. Puncaknya, saat seorang skater meluncur melintasi area dekat pria tersebut, sebuah tendangan melayang ke arahnya. Beruntung, 'sepakan' itu tak mengenai sasaran, namun bara konflik terlanjur tersulut.
"Kami biasanya selalu clear area dulu. Kalau ada anak kecil, pasti kami ajak bicara baik-baik. Tujuannya satu agar jangan sampai ada kecelakaan. Skatepark ini fasilitas olahraga ekstrem, risikonya patah tulang kalau tertabrak papan," ungkap Yusuf Rahman Cahyo Kusna, salah satu pehobi skateboard Magetan, dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Yusuf menyayangkan reaksi emosional tersebut, padahal menurutnya, koordinasi antar-pengguna ruang publik biasanya berjalan lancar. Namun, ia juga menunjuk pada akar masalah yang lebih besar: infrastruktur yang kurang memadai.
Skatepark yang dibangun tahun 2016 ini memiliki satu kelemahan fatal, yakni tidak adanya pembatas fisik yang jelas antara area olahraga dan tempat bermain anak (playground).
Tanpa pagar pembatas, anak-anak dengan bebas keluar masuk jalur lintasan yang sedang digunakan untuk meluncur kencang.
"Area playground dan skatepark itu tidak ada pembatas yang jelas. Kadang anak-anak tiba-tiba masuk ke area yang sedang dipakai bermain. Selain itu, kami butuh penerangan yang layak dan CCTV agar kejadian seperti ini bisa terekam kronologinya dengan jelas sejak awal," tambah Yusuf.
Baca Juga: Ratusan Pendaki Padati Gunung Lawu Demi Ritual 1 Suro
Menanggapi kegaduhan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan tak tinggal diam. Kepala Bidang Tata Lingkungan, Sriatun, menegaskan bahwa pihaknya telah memasang papan imbauan yang menyatakan bahwa area tersebut adalah fasilitas olahraga, bukan taman bermain anak.
“Kami sudah pasang imbauan. Nanti tim pranata taman juga akan ikut mensosialisasikan fungsi area ini kepada pengunjung agar tidak salah paham lagi,” tegas Sriatun.
Kabar baiknya, persoalan antara komunitas skater dan pengunjung tersebut dikabarkan telah berakhir damai.
Berita Terkait
-
Ratusan Pendaki Padati Gunung Lawu Demi Ritual 1 Suro
-
Cinderella dari Lereng Lawu: Kisah Haru Gadis Desa Dipinang Nakhoda Taiwan dengan Mahar Rp580 Juta
-
Petani Magetan Terbujur Kaku di Pematang Sawah Tersengat Listrik Pompa Air
-
Skandal 30 Detik Muda Mudi di Alun-Alun Sidayu: Fasilitas Publik Jadi Panggung Cinta Terlarang
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
BPBD Kabupaten Malang Tangani Banjir dan Longsor di Sejumlah Kecamatan
-
Banjir dan Longsor Terjang Malang Selatan, Sejumlah Akses Jalan Terputus
-
Longsor Rusak Pagar dan Plengsengan SDN 2 Pandean Trenggalek
-
Atap Honda Civic Ringsek Dihantam Pohon Tumbang di Tulungagung, 2 Korban Lolos dari Maut
-
Terbongkar! Kelangkaan BBM di Jatim Ternyata Ulah Mafia: Negara Boncos Rp35 M, Pelaku Dijerat TPPU