- Aliansi Rakyat Surabaya Menggugat menuntut Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran mundur melalui aksi di depan Gedung Grahadi.
- Aksi pada Senin (22/6/2026) ini diikuti 300 peserta yang menuntut pembentukan pemerintahan transisi akibat kegagalan sistemik pemerintah.
- Massa aksi menilai demokrasi telah mundur serta mendesak adanya perubahan politik mendasar akibat berbagai persoalan sosial dan pendidikan.
SuaraJatim.id - Aliansi Rakyat Surabaya Menggugat menuntut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mundur dan digantikan pemerintahan transisi.
Dalam aksi yang digelar di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (22/6/2026), aliansi yang terdiri dari unsur masyarakat sipil, mahasiswa, guru, dan berbagai kelompok masyarakat itu mengklaim telah mengonsolidasikan sekitar 300 peserta.
Mereka menegaskan bahwa gerakan kali ini sengaja dibangun sebagai wadah bersama untuk menghindari fragmentasi gerakan yang selama ini dinilai melemahkan tekanan publik terhadap pemerintah.
Juru Bicara Aliansi Rakyat Surabaya Menggugat, Miftakhur Rohmah, mengatakan tuntutan yang mereka bawa bukan lagi kritik terhadap satu atau dua kebijakan pemerintah, melainkan menyasar akar persoalan yang dianggap berada pada kepemimpinan nasional itu sendiri.
"Kalau hanya membahas isu per isu, itu percuma. Kesalahan tertinggi ada pada pemimpinnya. Karena itu kami memilih tuntutan paling tinggi, yakni menurunkan Prabowo-Gibran dan mendorong pembentukan pemerintahan transisi," ujarnya, Senin (22/6/2026).
Menurut Miftakhur, aliansi tersebut telah menyusun kajian yang mereka sebut sebagai Nawa-Nestapa, yakni sembilan kegagalan pemerintahan yang dianggap bersifat sistemik.
Beberapa di antaranya mencakup persoalan legitimasi pemerintahan, menguatnya oligarki politik, memburuknya perlindungan terhadap kelompok rentan, menyempitnya ruang hidup masyarakat, hingga tudingan kemunduran demokrasi.
Bagi mereka, persoalan yang terjadi saat ini tidak dapat dipisahkan dari arah kepemimpinan nasional. Karena itu, tuntutan yang diajukan tidak lagi berhenti pada evaluasi program-program pemerintah, melainkan meminta adanya perubahan politik yang lebih mendasar.
Aliansi tersebut juga menilai ruang demokrasi semakin menyempit. Mereka menuding masih adanya tindakan represif terhadap kelompok masyarakat sipil dan mahasiswa yang menyampaikan kritik melalui aksi demonstrasi.
Baca Juga: Tolak Militerisasi Sipil hingga Kenaikan BBM, Mahasiswa Kepung DPRD Jatim Kritik Kebijakan Prabowo
"Dalam negara demokrasi seharusnya kebebasan berpendapat dilindungi. Tetapi yang kami rasakan justru tekanan ketika menyampaikan kritik. Karena itu kami menilai demokrasi sedang mengalami kemunduran," kata Miftakhur.
Selain menyerukan pengunduran diri Prabowo-Gibran, massa aksi juga mengajak kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah untuk membangun konsolidasi gerakan yang lebih luas.
Mereka menegaskan aksi di Surabaya bukan agenda sekali jalan, melainkan bagian dari rangkaian gerakan yang akan terus dilanjutkan dalam waktu mendatang.
Di tengah meningkatnya kritik dari berbagai kelompok masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, tuntutan pengunduran diri presiden dan pembentukan pemerintahan transisi menjadi salah satu seruan politik paling keras yang muncul dari jalanan Surabaya.
Meski demikian, tuntutan tersebut masih merupakan sikap politik kelompok pengunjuk rasa dan belum mendapat tanggapan resmi dari pemerintah pusat.
Bagi Aliansi Rakyat Surabaya Menggugat, berbagai persoalan yang muncul saat ini merupakan gejala dari apa yang mereka sebut sebagai kegagalan sistemik pemerintahan Prabowo-Gibran.
Berita Terkait
-
Tolak Militerisasi Sipil hingga Kenaikan BBM, Mahasiswa Kepung DPRD Jatim Kritik Kebijakan Prabowo
-
Satu Nyawa Melayang: Tragedi Berdarah di Malam Puncak HUT Persebaya
-
GrabCar Plus dan GrabCar Premium di Surabaya Hadirkan Layanan Perjalanan Nyaman serta Eksklusif
-
Barisan Mahasiswa Pecah, Kobaran Api di Depan Grahadi Jadi Penutup Aksi
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Buntut 198 Siswa dan Guru Tumbang Usai Santap MBG, SPPG di Tulungagung Disetop 20 Hari
-
Pengedar Sabu Asal Madura Dicokok di Surabaya Demi Nyabu Gratis
-
Niat Tambah Nafkah Berujung Duka, Guru SDN 6 Kare Korban Tragedi KM Virgo Ditemukan Tewas
-
TP2DD Jatim Raih Penghargaan, Gubernur Khofifah Pastikan Digitalisasi Bermanfaat bagi Masyarakat
-
Putra Proklamator yang Rela Tidur di Gudang: Mengenang Kesahajaan Guruh Soekarnoputra