Wakos Reza Gautama
Sabtu, 25 Juli 2026 | 07:42 WIB
Empat huruf hijaiyah yang tertulis di menara Masjid Induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menyimpan kisah panjang yang sarat makna. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • KH Hasbullah Said menuliskan empat huruf hijaiyah rahasia di menara Masjid PPBU Tambakberas Jombang sebelum tahun 1948.
  • KH Wahab Hasbullah membuka penutup tulisan pada tahun 1948 dan memaknainya sebagai ramalan kemerdekaan sempurna bagi Indonesia.
  • Menara bersejarah tersebut kini terpilih menjadi ikon utama dalam logo resmi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun 2026.

SuaraJatim.id - Di balik kokohnya menara tua Masjid Induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, tersimpan sebuah teka-teki yang terkunci rapat selama bertahun-tahun.

Di sana, tertoreh empat huruf hijaiyah, Kha, Ra, Ta, dan Mim, yang bukan sekadar hiasan kaligrafi, melainkan pesan rahasia yang baru terkuak maknanya di saat kritis sejarah bangsa.

Kini, menara bersejarah itu kembali menjadi buah bibir. Keindahannya dipercantik, bukan tanpa alasan. Ia terpilih menjadi ikon utama dalam logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang.

Namun, apa sebenarnya yang membuat empat huruf ini begitu sakral bagi warga Nahdliyin?

Kisah ini bermula dari tirakat panjang KH Hasbullah Said, ayahanda dari sang deklarator NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.

Jauh sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Kiai Hasbullah menuliskan empat huruf tersebut di menara masjid, lalu menutupnya rapat-rapat dengan kain satir.

Sebuah instruksi keras diberikan kepada para santri: "Jangan ada yang berani membuka penutup ini." Pesan itu menjadi rahasia besar hingga menjelang wafatnya sang kiai.

Dalam sebuah wasiat yang sarat aura spiritual, beliau berucap: "Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menoro tahun 1948" (Jika aku meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara pada tahun 1948).

Tahun yang dinanti tiba. Di tengah suasana khusyuk lantunan Shalawat Burdah yang menggema, KH Wahab Hasbullah perlahan menyingkap kain penutup tersebut. Di hadapan para santri, tampaklah empat huruf yang masih utuh yakni Kha, Ra, Ta, dan Mim.

Baca Juga: Tragedi Rem Blong di Jombang: Truk Seruduk Buruh Pabrik, Dua Nyawa Melayang Seketika

Kiai Wahab, dengan mata batinnya yang tajam, langsung menangkap makna mendalam di balik rangkaian huruf tersebut. Jika dirangkai, keempatnya membentuk kalimat "Hurun Taamun". Artinya Kemerdekaan Sempurna.

Tahun 1948 bukanlah tahun sembarangan. Saat itu, Indonesia tengah berjuang di meja diplomasi maupun medan laga demi pengakuan kedaulatan dunia.

Agresi militer Belanda mencoba meruntuhkan semangat bangsa, namun ramalan spiritual Kiai Hasbullah seolah memberi kepastian bahwa kemerdekaan Indonesia adalah takdir yang sempurna.

Ketua Umum Yayasan PPBU, KH Abdurrozaq Sholeh, menjelaskan bahwa menara ini bukan hanya soal masa lalu. Bentuk arsitekturnya yang melingkar memiliki filosofi mendalam bagi masa depan NU.

"Bentuk melingkar itu menggambarkan persatuan dan kebulatan tekad. Bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, kita harus tetap bahu-membahu," tutur Gus Rozaq, yang juga merupakan cicit dari KH Hasbullah Said dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Ketinggian menara melambangkan teguhnya semangat perjuangan yang tak pernah padam. Itulah mengapa menara Tambakberas dipilih sebagai identitas visual Muktamar ke-35 NU.

Load More