- Polresta Mojokerto membongkar makam Rei Besari Gaylendri di Sidoarjo pada Jumat, 31 Juli 2026.
- Ekshumasi dilakukan atas laporan suami korban, Doddy Eka Wijaya, terkait dugaan praktik aborsi.
- Jenazah pegawai Kejari Mojokerto tersebut diautopsi di bawah pengawalan ketat kepolisian setempat.
SuaraJatim.id - Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, mendadak dipasang garis polisi, Jumat (31/7/2026) pagi. Sebuah makam yang baru berusia 51 hari terpaksa digali kembali.
Di dalamnya bersemayam jenazah Rei Besari Gaylendri, seorang Penelaah Teknis Kebijakan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto yang mengembuskan napas terakhirnya pada 10 Juni lalu.
Namun, ketenangan istirahat panjangnya terusik oleh sebuah laporan mengejutkan yang dilayangkan oleh orang terdekatnya sendiri yakni sang suami.
Bukan tanpa alasan Tim Identifikasi (Ident) Polresta Mojokerto melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam tersebut.
Langkah medis-legal ini diambil setelah Doddy Eka Wijaya, suami Rei, melaporkan adanya dugaan praktik aborsi yang menyelimuti kematian istrinya.
Kabar ini sontak mengejutkan warga desa. Kepala Desa Suruh, Suwono, membenarkan bahwa pihak keluarga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa terkait proses autopsi ini.
"Pihak suami melapor ke Polresta Mojokerto dan kemudian memberi tahu desa bahwa akan ada pembongkaran makam untuk autopsi. Dugaannya terkait aborsi, tapi soal benar atau tidaknya, itu sepenuhnya ranah pihak berwajib," ujar Suwono dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Rei Besari dikenal sebagai sosok abdi negara yang berdedikasi. Meski secara administrasi masih tercatat sebagai warga Desa Suruh, tugasnya di Kejari Kota Mojokerto membuatnya harus menetap di kota tersebut selama hampir satu setengah tahun terakhir.
Kepala Dusun Lengki, Ainul Rofiq, mengenang Rei sebagai warga yang baru saja kembali ke tanah kelahirannya dalam peti mati pada Juni lalu. Ia tak menyangka bahwa kepulangan Rei akan berbuntut pada proses hukum yang pelik.
Baca Juga: Uang Judol Rp9 Miliar Milik Jaka Purnama Disetorkan ke Negara
"Dia memang warga sini, tapi domisilinya pindah ke Mojokerto karena tuntutan pekerjaan sebagai staf di Kejaksaan. Kami di desa hanya membantu memfasilitasi kebutuhan teknis pembongkaran makam, seperti penyediaan batu dan tenaga penggali," jelas Ainul.
Hingga Jumat siang, proses autopsi berlangsung dengan pengawalan ketat. Polresta Mojokerto masih menutup rapat informasi mengenai hasil sementara dari pemeriksaan jenazah tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP
-
Cekcok Pagi Berujung Maut, Pria di Blitar Tewas Dihantam Gagang Cangkul Tetangga
-
Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun
-
Dituding Jadi Imam Mahdi dan Bawa Kabur Rp1,3 Miliar, Figar Siap Lawan di Jalur Hukum
-
Sandera Bus Sendiri, Lepas Bus Lawan: Malam Horor Persebaya Diadili Bonek di GBT