Wakos Reza Gautama
Senin, 10 Agustus 2026 | 18:39 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama Tri Rismaharini dan beberapa kader PDI-P yang mengunjungi rumah kos Soekarno milik HOS Tjokroaminoto di Surabaya, Senin (10/8/2026). [Suara.com'Dimas Angga]
Baca 10 detik
  • Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menanggapi hasil survei IPO di Surabaya pada 10 Agustus 2026.
  • PDIP menjadikan hasil survei elektabilitas yang menempatkan mereka di bawah Gerindra sebagai bahan evaluasi.
  • Hasto menegaskan partai fokus bekerja nyata untuk rakyat kecil ketimbang mengejar angka elektabilitas.

Hasto juga mendorong seluruh kepala daerah yang berasal dari PDIP untuk bekerja lebih keras. Menurut dia, tren elektoral harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Ia mencontohkan Surabaya sebagai salah satu daerah yang dinilai mampu menerjemahkan narasi keberpihakan kepada masyarakat kecil ke dalam kebijakan.

Menurut Hasto, kebijakan tata ruang, penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin, hingga bantuan sosial yang bersifat memberdayakan dapat menjadi contoh bagaimana politik kerakyatan diterapkan secara konkret.

"Bantuan sosial itu adalah bantuan yang memberdayakan, yang meningkatkan kemampuan produksi rakyat," ujarnya.

Hasto juga meminta anggota legislatif PDIP ikut mengambil peran di tengah tantangan fiskal yang semakin berat. Ia mendorong para legislator mengawal program-program padat karya sekaligus meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat.

"Termasuk untuk meningkatkan keterampilan rakyat dalam meningkatkan produktivitas, termasuk di pertanian," katanya.

Bagi PDIP, survei IPO dengan demikian bukan sekadar kabar buruk atau ancaman elektoral. Hasil tersebut justru ditempatkan sebagai alarm agar mesin partai kembali bekerja di lapangan.

Pesan Hasto jelas yakni elektabilitas tidak cukup dibangun dari angka survei. PDIP harus membuktikan identitas sebagai partai wong cilik melalui kebijakan yang benar-benar mengubah kehidupan rakyat.

Dalam kesempatan ini, Hasto sempat menaiki tempat tidur Soekarno saat kos di rumah HOS Tjokroaminoto. Usai memasuki kamar, ia menceritakan aura dan pengorbanan apa yang dilakukan para pejuang melawan VOC, khususnya yang dirasakan oleh Soekarno muda saat itu.

Baca Juga: Bukan Menolak, PDIP Bongkar Alasan Larang Kadernya Ikut Proyek Makan Bergizi Gratis

"Maka dari itu, saya mengajak Bu Risma berkunjung ke sini (rumah HOS Tjokroaminoto), karena Peneleh-HOS Tjokroaminoto-Soekarno berkaitan langsung dengan Bu Risma," jelasnya.

Seraya mengamini perkataan Hasto, Tri Rismaharini menceritakan, bagaimana dirinya berjuang demi berdirinya museum ini. Dimana saat itu, Risma masih menjabat Kepala Dinas, dan Wali Kota Surabaya diduduki oleh Bambang DH.

"Saya selalu menyisihkan keuangan kantor untuk dan meminta ijin Pak Bambang DH untuk bisa merealisasikan membeli bangunan ini. Waktu itu sempat terkendala dengan keberadaan ahli waris pemilik bangunan ini," tandasnya.

Kontributor : Dimas Angga Perkasa

Load More