SuaraJatim.id - Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim memberikan beberapa catatan penting untuk pemerintah provinsi. Salah satunya mengenai ketimpangan di bidang pembangunan, rendahnya angka partisipasi pendidikan menengah dan efektivitas anggaran.
Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Guntur Wahono dalam sidang Paripurna dengan agenda Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Timur Tahun Anggaran 2024 pada Rabu (9/4/2025) menyampaikan, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan pemerintah provinsi.
Pertama mengenai persentase penduduk miskin. Kendari terjadi penurunan, namun kantong - kantong kemiskinan struktural masih banyak ditemukan.
“Perlu pendekatan yang lebih terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas layanan dasar, dan penguatan kelembagaan sosial di akar rumput,” katanya.
Guntur menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sampai sekarang memang belum sepenuhnya inklusif dan merata. Beberapa daerah masih tertinggal. Sebab itu, diperlukan penanganan sesuai dengan potensi per wilayah untuk memaksimalkannya.
“Diperlukan diversifikasi ekonomi berbasis potensi lokal, penguatan sektor UMKM, dan peningkatan investasi yang menyentuh wilayah pedesaan dan pinggiran,” ungkapnya.
Dia juga mengusulkan perlu adanya percepatan pembangunan infrastruktur dasar dan sinergi antar kabupaten/kota untuk mengurangi ketimpangan spasial. Hal ini sebagaimana tercermin dalam indeks theil yang masih tinggi.
Fraksi PDIP DPRD Jatim berharap infrastruktur digarap secara serius, salah satunya mengenai jalan.
Pihaknya melihat anggaran Rp 4,2 triliun hanya mencapai pembangunan jalan sebesar 96,4 persen. Namun sayang, penyelesaian pembangunan jalan tersebut belum disertai mengenai data kondisi riil jalan mantap.
Baca Juga: LKPJ Gubernur Jatim 2024: Fraksi DPRD Apresiasi dengan Sejumlah Catatan
“Sulit mengukur dampaknya terhadap konektivitas antarwilayah dan pertumbuhan ekonomi lokal,” kata Guntur.
FPDIP DPRD Jatim juga menyoroti masalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Guntur menekankan pentingnya pendidikan vokasi, link and match dengan industri, dan inkubasi wirausaha muda untuk menekan pengangguran usia produktif.
Kemudian pemerataan distribusi tenaga kesehatan yang bisa menjangkau hingga ke pelosok daerah.
Fraksi PDIP menyoroti anggaran pendidikan sebesar Rp 3,4 triliun, tetapi belum mampu meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) SMA. Sejauh ini APM baru mencapai 65,37 persen.
“Ini menunjukkan masih banyak anak usia sekolah yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah,” ungkapnya.
Guntur lalu menyampaikan mengenai pentingnya program pelatihan tenaga kerja dengan anggaran Rp 98,75 miliar. "Ini juga kami pertanyakan karena tidak menyertakan data penyerapan kerja pasca - pelatihan," lanjutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Survei IndocPolls: Seskab Teddy Teratas, Nusron Wahid Dapat Penilaian Terendah
-
BRI Salurkan Kredit Rp1.645,5 Triliun dan Perkuat Pembiayaan UMKM
-
Obral Akun WA Rp500 Perak, Hacker Asal Krian Raup Rp100 Juta untuk Promosi Judol Kamboja
-
Modus Stempel Palsu & Belanja Fiktif: Ketua dan Bendahara KONI Pasuruan Dijebloskan ke Penjara
-
Dibuang di Teras Toko Beralas Selimut Pink, Bayi 3 Hari di Bangkalan Buat Hati Bu Kades Meleleh