- Pemerintah Kota Surabaya menyatakan Sesar Surabaya dan Sesar Waru memiliki potensi magnitudo maksimum masing-masing sekitar M6,7 dan M6,8.
- BPBD Kota Surabaya secara rutin memberikan edukasi mitigasi gempa kepada pelajar, fasilitas umum, dan masyarakat sejak Rabu (16/9/2026).
- Pemerintah Kota Surabaya berkoordinasi dengan ITS untuk memasang alat sensor guna memonitor aktivitas kedua sesar tersebut.
Sesar Tidak Bisa Diprediksi Seperti Jadwal Kereta
Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto menegaskan masyarakat tidak perlu panik dengan informasi mengenai dua sesar tersebut.
Menurut dia, yang jauh lebih penting adalah memastikan warga memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
“Upaya mitigasi ini kita lakukan mulai dari usia dini, dari tingkat PAUD hampir setiap hari kita latih, lalu ke sekolah-sekolah dari SD, SMP, hingga SMA,” ujar Irvan, Rabu (16/9/2026).
Edukasi tersebut dilakukan karena keberadaan sesar tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan waktu gempa.
Masyarakat justru perlu membangun kebiasaan menghadapi guncangan. Mulai dari mengetahui tempat berlindung, mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, hingga memahami apa yang harus dilakukan ketika guncangan berlangsung.
Irvan menekankan warga tidak perlu langsung berlari secara panik ketika gempa terjadi.
Prinsip perlindungan diri harus dilakukan terlebih dahulu dengan melindungi kepala dan tubuh dari benda yang berpotensi jatuh.
“Yang utama adalah hold and cover, mencari benda untuk menutupi kepala dan leher, berlindung di bawah meja, atau di area triangle of life (segitiga kehidupan),” katanya.
Baca Juga: Tidak Ada Berita Seharga Nyawa: Aksi Solidaritas Wartawan untuk 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau
Edukasi tersebut kemudian diperluas ke berbagai kelompok masyarakat.
BPBD Surabaya tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga pesantren, rumah sakit, gedung bertingkat, serta lingkungan permukiman melalui Kampung Pancasila.
Langkah itu menunjukkan bahwa mitigasi dua sesar aktif tidak bisa hanya dilakukan oleh kelompok yang dianggap berada di kawasan rawan. Sebab, gempa dapat berdampak terhadap berbagai aktivitas perkotaan.
Dari Peta Sesar ke Sensor
Selain membangun kesiapan manusia, Pemkot Surabaya juga mulai memperkuat sisi pemantauan.
Pemerintah kota telah berkoordinasi dengan ITS terkait rencana pemasangan sensor untuk memonitor aktivitas sesar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
Persaingan Ketat di Tengah Persebaya Jadi Energi Positif Gledson Paixao
-
Dua Sesar Aktif Membelah Surabaya, Ancaman yang Tak Bisa Diprediksi
-
Sehari Sebelum Dilantik, Rektor UINSA Mangkir Panggilan Jaksa Terkait Dugaan Pungli Dosen Rp897 Juta
-
Berkat Laporan BNI, Oknum Agen Nakal Satu Per Satu Diringkus di Jember
-
Siapa Jose Henrique? Garangnya Bikin Kiper Arema FC Adi Satryo Was-was