Wakos Reza Gautama
Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:43 WIB
Ilustrasi bayi. Seorang bayi berinisial A di Sidoarjo meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo pada Minggu, 11 Oktober 2026. [Pexels]
Baca 10 detik
  • Seorang bayi berinisial A di Sidoarjo meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo pada Minggu, 11 Oktober 2026.
  • Kematian korban diduga dipicu oleh tindakan sang nenek yang mencekokinya telur ayam mentah saat mengalami demam tinggi.
  • Manajemen RSUD Dr. Soetomo menyampaikan belasungkawa namun menolak membeberkan detail rekam medis pasien demi menjaga privasi keluarga.

SuaraJatim.id - Niat hati ingin menurunkan demam sang cucu lewat ramuan tradisional, tindakan seorang nenek di Waru, Sidoarjo, justru berujung duka mendalam.

Seorang bayi berinisial A mengembuskan napas terakhirnya di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Minggu (11/10/2026) pagi, usai berjuang melawan komplikasi parah selama tiga hari.

Keluarga menduga, kondisi kritis bayi tak berdosa itu dipicu oleh keputusan fatal sang nenek yang nekat mencekokinya telur ayam mentah saat tubuh si kecil mengalami demam tinggi.

Ironisnya, ramuan tersebut diberikan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan ibu kandung korban, hanya berlandaskan mitos turun-temurun yang masih diyakini sebagian masyarakat.

"Mungkin kepercayaannya begitu, mengira kalau dikasih telur mentah demamnya bisa reda. Padahal bayi sekecil itu kan harusnya ditangani dengan obat medis yang benar," tutur Calista, salah satu perwakilan keluarga, Selasa (13/10/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

"Namanya orang tua zaman dulu, masih ada hal-hal mitos yang dipercaya dan dipraktikkan tanpa memikirkan risikonya," imbuhnya dengan nada lirih.

Keputusan memberi asupan mentah pada saluran cerna bayi yang masih rentan itu seketika memicu malapetaka medis. Gejala demam yang awalnya dianggap biasa berubah drastis menjadi komplikasi serius.

Korban mulanya dilarikan ke puskesmas setempat, namun kondisinya terus memburuk hingga dirujuk ke sebuah rumah sakit di Waru, Sidoarjo, untuk menjalani tindakan operasi darurat.

Alih-alih membaik, nestapa sang bayi kian menjadi. Pascaoperasi, bekas sayatan bedah di tubuh mungilnya justru terus-menerus merembeskan darah dan cairan nanah.

Baca Juga: Jejak CCTV Tak Bisa Bohong: Pasutri Muda di Banyuwangi Ditangkap Usai Buang Bayi

"Lukanya terus mengeluarkan darah sampai harus transfusi berkali-kali," terang Calista.

Melihat situasi kritis tersebut, tim dokter akhirnya memutuskan merujuk bayi A ke rumah sakit pusat rujukan Jawa Timur, RSUD Dr. Soetomo Surabaya, sebelum akhirnya takdir berkata lain.

Dikonfirmasi terpisah, manajemen RSUD Dr. Soetomo membenarkan kabar meninggalnya pasien bayi rujukan dari Sidoarjo tersebut.

Namun, pihak rumah sakit memilih bergeming dan enggan membeberkan rekam medis terkait pemicu utama kematian, termasuk keterkaitan langsung antara konsumsi telur mentah dengan komplikasi pascaoperasi yang diderita korban.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang sangat mendalam kepada pihak keluarga. Untuk saat ini, hanya informasi tersebut yang dapat kami sampaikan," ujar Humas RSUD Dr. Soetomo, Niken.

Sikap serupa disampaikan Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar. Ia menegaskan seluruh tim medis telah mengerahkan upaya maksimal sesuai protokol penanganan darurat anak, namun menolak mengungkap detail diagnosis pasien demi hukum privasi dan empati keluarga.

Load More