Wakos Reza Gautama
Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:42 WIB
Ilustrasi kekerasan. Oknum pembimbing disiplin Universitas Pertahanan menganiaya tiga siswa Sekolah Rakyat Jember di asrama pada Minggu malam, 18 Oktober 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Oknum pembimbing disiplin Universitas Pertahanan menganiaya tiga siswa Sekolah Rakyat Jember di asrama pada Minggu malam, 18 Oktober 2026.
  • Keluarga korban resmi melaporkan tindakan kekerasan fisik tersebut ke Polres Jember pada Senin, 19 Oktober 2026, setelah korban dirawat di puskesmas.
  • Pihak sekolah diduga berupaya menutup-nutupi insiden penganiayaan tersebut dan enggan memberikan keterangan resmi kepada awak media.

SuaraJatim.id - Dalih pembinaan disiplin berujung petaka di asrama Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tiga siswa sekolah berasrama tersebut diduga menjadi korban kebrutalan seorang oknum mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) yang bertugas sebagai pembimbing disiplin.

Akibat peristiwa ini, salah satu korban berinisial P dilarikan ke puskesmas setelah menerima pukulan dan tendangan bertubi-tubi.

Tak terima atas aksi main hakim sendiri itu, keluarga korban resmi menyeret pelaku ke Polres Jember, Senin (19/10/2026).

Paman korban, BD, membeberkan kronologi malam nahas yang terjadi di dalam asrama pada Minggu (18/10/2026) malam.

Insiden bermula saat rekan P kepergok merokok oleh oknum mahasiswa tersebut. Namun, bukan teguran mendidik yang didapat, melainkan tamparan keras.

Aksi kekerasan fisik itu sempat dipertanyakan oleh siswa lain. "Kenapa kok dipukul, Bang?" ujar siswa tersebut, sebagaimana ditirukan BD.

Bukannya mereda, sang pembimbing justru naik pitam dan memukul siswa yang menegurnya. Melihat dua kawannya dianiaya di depan mata, korban P mencoba melerai dan membela. Keputusan ini justru membuat P menjadi samsak amarah oknum pembimbing tersebut.

"Keponakan saya justru yang paling parah. Dia dipukul dan ditendang di bagian dada serta punggung hingga harus dirawat di puskesmas," ungkap BD dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Hasil visum memperkuat laporan tersebut, di mana ditemukan luka lebam yang nyata di dada sebelah kiri P. Padahal, menurut keluarga, malam itu tidak ada agenda kegiatan resmi dari pihak sekolah.

Baca Juga: Geger Dugaan Aksi Bejat Oknum Gus, Ponpes di Probolinggo Mendadak Lengang Ditinggal Santriwati

Keluarga P pertama kali mengetahui kabar kekerasan ini dari wali asuh dan wali asrama yang merasa resah atas tindakan pelaku.

Ironisnya, alih-alih transparan menyelesaikan kasus penganiayaan anak di bawah umur ini, pihak sekolah justru terkesan hendak menutup rapat insiden tersebut.

"Pihak sekolah meminta keluarga agar korban tidak divisum atau melapor. Tapi saya ingin ini tetap diproses hukum secara tegas! Pembimbing itu tugasnya mengajar dan mendidik, bukan menghajar," tegas BD.

Kendati trauma membayangi, keluarga masih berharap P tetap bisa melanjutkan pendidikannya di SR asalkan ada jaminan keamanan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Sekolah Rakyat memilih bungkam. Kepala Sekolah Rakyat, Kartika Sari Dewi, enggan memberikan keterangan terkait dugaan penganiayaan dan upaya menghalangi visum tersebut.

"Mohon maaf ya, Mas," ucapnya singkat.

Load More