Wakos Reza Gautama
Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:13 WIB
Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Eko Purnomo (tengah), didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan (kiri), saat konferensi pers mengenai penangkapan penyusup demo mahasiswa di Mapolrestabes, Kamis (22/10/2026) malam. [Suara.com/Dimas Angga]
Baca 10 detik
  • Polda Jawa Timur menggagalkan dugaan pembajakan aksi mahasiswa di Gedung Grahadi Surabaya pada Kamis, 22 Oktober 2026.
  • Polisi menyergap 11 pemuda dan menyita barang berbahaya berupa tiner, senjata pemukul, serta arak di lokasi penyekatan strategis.
  • Penyelidikan siber mendapati instruksi pembentukan kerusuhan, dan aparat kini memburu dalang intelektual di balik rencana tersebut.

SuaraJatim.id - Aksi unjuk rasa yang menuntut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari tampuk kekuasaan di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (22/10/2026), nyaris berujung petaka.

Kepolisian bergerak cepat menggagalkan dugaan skenario pembajakan aksi damai mahasiswa yang dirancang untuk memicu kerusuhan massal.

Sebanyak 11 pemuda disergap di sejumlah titik penyekatan strategis, mulai dari kawasan Inna Simpang, Gang Setan, hingga Taman Apsari, sebelum berhasil menyusup ke tengah barisan massa.

Dari tangan mereka, aparat Polda Jawa Timur mengamankan sejumlah barang berbahaya seperti jeriken tiner yang diduga disiapkan untuk pembakaran, senjata pemukul besi (knuckle), botol minuman keras jenis arak, serta beberapa telepon genggam.

"Sebelum massa aksi berdemo, kami mengamankan 11 orang yang diduga kuat hendak menunggangi penyampaian aspirasi," tegas Kapolda Jatim Irjen Dekananto Eko Purwono di Mapolrestabes Surabaya.

Dari hasil identifikasi awal, mayoritas kelompok ini bukan massa terpelajar. Sembilan di antaranya berstatus putus sekolah dan hanya dua orang yang berstatus mahasiswa.

Polisi memastikan mereka beroperasi di luar kelompok aliansi mahasiswa yang terdaftar resmi sebagai peserta aksi.

Sorotan kini beralih pada isi ponsel para terduga. Direktorat Siber Polda Jatim menemukan riwayat komunikasi digital yang mencurigakan. Ada instruksi dan ajakan eksplisit untuk menciptakan kekacauan di jantung Kota Pahlawan.

Penyidik kini memburu kemungkinan adanya dalang intelektual dan jaringan sel yang membentang hingga ke luar wilayah Jawa Timur.

Baca Juga: Panjat Patung Gubernur Suryo, Demonstran di Surabaya Desak Prabowo-Gibran Lengser

"Ada indikasi komunikasi dengan pihak luar yang ingin merusak kondusivitas. Kami dalami siapa yang menggerakkan mereka," tambah Dekananto.

Kontributor : Dimas Angga Perkasa

Load More