Wakos Reza Gautama | Baehaqi Almutoif
Jum'at, 23 Oktober 2026 | 18:29 WIB
Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan proses pendinginan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (13/9/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nz]
Baca 10 detik
  • Total 11.449 hektar lahan di 26 kabupaten/kota terbakar. Kawasan terdampak mencakup Bromo Tengger Semeru dan Gunung Arjuno.
  • Medan yang ekstrem di lereng gunung menyulitkan pemadaman karhutla.
  • Enam orang petugas dan relawan gugur saat menjalankan tugas pemadaman di Bromo.

Dugaan tersebut muncul setelah ditemukan sejumlah barang bukti, seperti korek gas, ban yang terbakar, hingga semprotan obat nyamuk.

"Kalau kita bicara kebakaran karena alam ya, itu kemungkinan kecil sekali. Dan misalnya puntung rokok pun itu juga kecil sekali kemungkinan itu akan terbakar," ungkapnya.

BPBD Jatim menyerahkan kasus tersebut kepada petugas kepolisian. Pihaknya dalam hal ini hanya berkapasitas mendukung dalam penanganan kasus tersebut.

"Secara penegakan hukum kalau di areanya TNBTS ada unit sendiri di sana untuk penindakan dan penegakan hukum, juga ada di pihak kepolisian kalau masuk wilayah wilayah pidana umum kayak gitu," bebernya.

Dampak Karhutla di Jatim

Kebakaran tidak hanya menghanguskan hutan dan lahan, tetapi juga membakar pipa air. Akibatnya suplai air warga sempat terganggu.

Sementara itu untuk kesehatan warga, BPBD Jatim menegaskan belum ada yang terdampak secara langsung.

Meski demikian, Anggota Komisi E DPRD Jatim Suli Daim meminta pemerintah provinsi untuk mengantisipasinya. Pihaknya berharap dinas kesehatan bersama dengan BPBD melakukan pemeriksaan terhadap warga.

Salah satunya bisa dengan mengoptimalkan Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan. "BPBD harus koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Bisa dengan mengoptimalkan Puskesmas dan melakukan pengadaan masker bagi seluruh masyarakat sekitar itu," kata Suli.

Baca Juga: 92 Titik Panas Masih Terdeteksi di Gunung Arjuno, Bantuan Water Bombing Dikejar

Data Dinas Kesehatan Jawa Timur penderita ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan Akut dilaporkan menunjukkan peningkatan pada 2026 dibandingkan rata-rata bulanan pada 2025.

Kasus ISPA tahun 2026 di Jawa Timur, dengan rata-rata sekitar 151.750 kasus per bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2025 yang mencapai sekitar 111.393 kasus perbulan

Pada Agustus 2026, jumlah kasus yang dilaporkan mencapai 212.914 kasus, menjadi angka bulanan tertinggi sepanjang periode Januari–September 2026. Lima kabupaten dengan jumlah laporan kasus ISPA tertinggi pada periode Januari–September 2026, yakni Kota Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kota dan Kabupaten Malang.

Dinas kesehatan dalam rilisnya menyebutkan peningkatan ISPA merupakan dampak dari musim kemarau dengan curah hujan rendah, sehingga menyebabkan pencucian polutan di udara oleh proses rain washing menjadi berkurang.

Kondisi udara yang panas dan relatif kering dapat mempengaruhi stabilitas aerosol serta pertahanan mukosa saluran napas, sehingga bisa menjadi salah satu potensi dalam transmisi virus penyebab infeksi saluran pernapasan. 

Load More