Wakos Reza Gautama
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:23 WIB
Punggawa, jajaran pelatih, dan manajemen menemui Bonek yang mengamuk meminta pertanggungjawaban Persebaya atas performa buruk Persebaya dalam beberapa laga terakhir. [Suara.comDimas Angga]
Baca 10 detik
  • Bonek memblokade bus Persebaya di Stadion GBT pada Jumat (30/10/2026) malam akibat hasil imbang melawan Persijap.
  • Suporter menuntut pertanggungjawaban langsung dari manajer Siddik Tualeka dan pelatih Bernardo Tavares di lokasi kejadian.
  • Pelatih Bernardo Tavares menyampaikan alasan kurang beruntung yang memicu cemoohan serta ultimatum evaluasi total dari suporter.

SuaraJatim.id - Ada pemandangan anomali yang memicu bulu kuduk berdiri di luar Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Jumat (30/10/2026) malam.

Bus tim tamu, Persijap Jepara, dipersilakan melenggang bebas diiringi teriakan ramah suporter. Namun beberapa meter di belakangnya, nasib berbeda dialami armada Bajol Ijo. Bus Persebaya Surabaya justru disandera pendukungnya sendiri.

Hasil imbang kontra Persijap di kandang rupanya menjadi tetes terakhir batas kesabaran Bonek dan Bonita. Begitu peluit panjang berbunyi, bara kekecewaan berpindah dari tribun ke pintu keluar stadion.

Puluhan suporter memblokade gerbang, mengubah aspal GBT menjadi ruang sidang jalanan selama hampir satu jam. Sasarannya Manajer tim, Siddik Tualeka (Alek), dan sang juru taktik, Bernardo Tavares.

"Seret pak polisi! Tembak gas air mata biar cepat keluar!" teriak salah satu suporter yang frustrasi melihat manajemen tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Suasana kian mendidih saat teriakan lain bersahutan menuntut tanggung jawab sang manajer. "Alek, metuo! Tanggung jawab kene, ojok ndelik ae! (Alek, keluar! Tanggung jawab di sini, jangan sembunyi saja!)" semprot suporter di barisan depan.

Upaya para pemain untuk menjadi tameng dan meredakan situasi berujung sia-sia. Kiper Persebaya yang mencoba angkat bicara langsung dibungkam massa.

Pun demikian dengan Francisco Rivera. Penjelasan sang gelandang yang terbata-bata dalam bahasa Indonesia tak digubris. Bonek menolak berbicara dengan pemain. Mereka hanya ingin otak di balik taktik dan kebijakan klub yang bersuara.

Momen puncak ketegangan terjadi saat Bernardo Tavares akhirnya menghadapi massa. Alih-alih meredam amarah, pernyataan pelatih asal Portugal itu justru menuai 'bumerang'.

Baca Juga: Rivalitas Melebur di GBT: Bonek Targetkan Sejuta Masker untuk Korban Karhutla Sumatra-Kalimantan

"Para pemain sudah berusaha sebaik mungkin, mungkin kita belum beruntung. Pertandingan depan akan kami berikan hasil yang lebih baik," ucap Tavares.

Jawaban normatif bernada klise tersebut langsung disambar koor cemoohan panjang. Bagi Bonek yang muak dengan siklus kalah-seri-kalah, kata kurang beruntung terdengar seperti alasan murahan.

Melalui pengeras suara, seorang koordinator aksi akhirnya melayangkan ultimatum keras agar ada evaluasi total dan perombakan performa dalam batas waktu yang ditentukan, atau Persebaya akan menghadapi gelombang protes yang jauh lebih masif.

Blokade akhirnya dibuka dengan kawalan sumpah serapah. Bus Bajol Ijo perlahan merayap meninggalkan stadion dalam tekanan moral yang luar biasa.

Kontributor : Dimas Angga Perkasa

Load More