Di Pemakaman Djaiti, Aris Menangis Ketika Doa Dilantunkan

Chandra Iswinarno
Di Pemakaman Djaiti, Aris Menangis Ketika Doa Dilantunkan
Aris menangisi kepergian sang ibu Djaiti yang meninggal akibat penyakit komplikasi di Taman Pemakaman Umum Ngagel Kota Surabaya pada Selasa (27/8/2019). [Suara.com/Achmad Ali]

Aris terlihat berusaha tegar saat mengantarkan jasad ibunya ke liang lahat.

Suara.com - Aris terus saja menangis melihat jasad ibunya terbungkus kain kafan. Ibu yang kepalnya pernah ditendang menggunakan kaki kirinya hingga videonya viral itu kini telah ditimbun tanah di tempat pemakan umum (TPU) Ngagel.

Suara.com menyaksikan prosesi pemakam itu. Aris terlihat berusaha tegar saat mengantarkan jasad ibunya ke liang lahat. Tubuh yang tak lagi bergerak itu disemayamkan langsung oleh Aris dan kakak laki-lakinya, Syukur.

Tangan Aris berusaha mengatur posisi jasad ibunya. Tanah berbentuk bulat diselipkan dibagian kaki, tubuh dan kepala untuk menyangga agar posisi jasad tidak berubah.

Satu per satu papan kayu yang sudah dipotong ditutupkan ke liang lahat dalam posisi miring. Selanjutnya, Aris dan kakaknya naik untuk menutup makam dengan tanah yang sebelumnya digali oleh penggali kubur.

Setelah rampung, terlihat pandangan Aris kosong. Dia merenung sambil menggenggam tangannya ketika batu nisan bertuliskan Djaiti ditancapkan ke tanah.

Menangis Saat Doa Dipanjatkan

Aris tak kuasa menahan air matanya saat seorang ustadz memanjatkan doa untuk ibunya. Dia berusaha menghapus air matanya yang terus memaksa jatuh.

Sepanjang doa, Aris tak henti-hentinya menangis. Sesekali dia menatap batu nisan putih bertuliskan nama ibunya. Setelah itu kembali menyembunyikan wajahnya diantara kaki dan tangannya.

Pembacaan doa usai. Namun air mata Aris tetap bercucuran. Syukur berusaha menenangkan adiknya. Terdengar lirih berbisik meminta Aris tabah dan tenang. Namun tangis Aris makin menjadi.

Hingga akhirnya syukur mengajak Aris untuk pulang meninggalkan pemakaman yang terletak di Jalan Ngagel, Surabaya.

Untuk diketahui, Djaiti (60) meninggal dunia usai menjalani perawatan di RS Soewandi, Surabaya. Djaiti dikabarkan meninggal sekira pukul 14.00 WIB karena sakit komplikasi.

Sebelumnya diberitakan, pemuda berusia 21 tahun berinisial AP, warga Kedondong, Kota Surabaya, Jawa timur, sempat viral lantaran memukul kepala ibunya.

Tak hanya itu, dalam video rekaman yang tak sampai semenit itu, sang ibu DJT (60) juga sempat diinjak AP menggunakan kaki kirinya.

Melihat video yang viral tersebut, AP dipanggil Polisi Polsek Tegalsari, Surabaya untuk dimintakan keterangan, Rabu (21/8/2019).

“Kami panggil dan minta keterangan akan dugaan kasus penganiayaan ibu kandung tersebut,” jelas Kapolsek Tegal Sari Komisaris Rendy, Kamis (22/8/2019).

Kompol Rendy menjelaskan, perlakuan bejat sang anak itu viral lantaran direkam oleh keluarganya.

Seusai direkam, pihak keluarga memberitahukan ke rekannya, hingga kemudian video tersebut viral di media sosial.

Meski diperlakukan tak baik, sang ibu masih memaafkan dan berharap prilaku anaknya berubah.

“Usai AP kami panggil, kemudian kami memanggil pihak keluarga. Selanjutnya pihak keluarga semuanya sepakat masalah tersebut diselesaikan secara kekeluargaan,” lanjutnya.

Setelah menulis surat pernyataan dilampiri materai, pihak kepolisian mempersilahkan AP pulang bersama keluarga.

“Pihak keluarga minta damai dan diselesaikan secara kekeluargaan. Usai diperiksa dan pulang, AP lantas sujud ke ibunya untuk memohon maaf,” kata dia.

Kontributor : Achmad Ali

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS