Viral Pohon Menangis Ramai Dikunjungi, Pemilik Lahan Sempat Ditanya Polisi

Chandra Iswinarno
Viral Pohon Menangis Ramai Dikunjungi, Pemilik Lahan Sempat Ditanya Polisi
Mat Werdi (88) pemilik pohon menangis menemani pengunjung mendengar suara tangis pohon. [Suara.com/Ahmad Suudi]

Dia juga mengaku sempat diminta menebang pohon tersebut oleh kepolisian, namun menolak. Warga yang percaya pohon dihuni jin.

SuaraJatim.id - Pemilik lahan tempat pohon menangis yang viral di Jember, tidak mau menarik karcis meski banyak orang datang. Padahal diakuinya pengunjung pohon menangis mencapai ribuan per hari dan sempat ramai menjadi tongkrongan pedagang makanan keliling.

Pohon Akasia setinggi 20 meter tersebut dalam seminggu terakhir menjadi viral dan dikunjungi masyarakat setiap harinya, bahkan sampai malam. Pemilik lahan yang kali pertama mengetahui suara tangisan Mat Werdi (88) mengakui, lantaran hal tersebut kebun tersebut ramai didatangi pengunjung dari Banyuwangi, Jember, Malang dan daerah lainnya.

Pun dia sempat ditanyai kepolisian mengenai pohon akasia tersebut. Di antaranya mengenai kemungkinan dirinya memasang alat di pohon itu, dan apakah dia menarik karcis atau meminta sumbangan pada pengunjung pohon.

"Saya jawab saya punya alat sabit. Saya juga tidak narik karcis, enggak ngumpulkan sumbangan," kata Werdi di rumahnya, Dusun Krajan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger, Jember, Rabu (22/1/2020).

Hal itu dilakukannya, karena menyadari tidak bisa menjamin keamanan pengunjung saat mereka bersama-sama mendengar suara pohon. Dia juga tak menjamin keamanan kendaraan pengunjung, sehingga tidak menarik uang parkir.

Dia juga mengaku sempat diminta menebang pohon tersebut oleh kepolisian, namun menolak. Warga yang percaya pohon dihuni jin khawatir keputusan itu akan memberi dampak buruk pada mereka.

Pohon yang diperkirakan Werdi berusia 20 tahun itu membatasi dua sisi tanahnya untuk dibagikan pada kedua anaknya. Satu sisi berupa ladang bekas panen jagung, sisi lain pekarangan berisi kandang kambing dan sapi.

Kapolsek Puger AKP Ribut Budiono mengatakan bunyi pohon tersebut bukanlah kejadian aneh. Melainkan, bunyi dari gesekan dahan akasia dan pelapah kelapa saat angin berembus kencang.

Akhirnya setelah berkoordinasi dengan pemilik pohon, pihaknya telah memotong empat pelapah kelapa yang berdekatan dengan dahan akasia. Kini suara tangis tak lagi terdengar, yang dia klaim hasil dari pemotongan pelepah kelapa tersebut.

"Jadi murni anak kecil yang menviralkan. Sebelum dipotong memang bunyi, ketika ada angin bunyi. Setelah dipotong tidak bunyi," kata Ribut setelah meninjau lokasi pohon.

Kontributor : Ahmad Su'udi

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS