Bawa Pulang Paksa Jenazah Covid, 50 Orang Dorong Ranjang RS Sampai Rumah

Dwi Bowo Raharjo
Bawa Pulang Paksa Jenazah Covid, 50 Orang Dorong Ranjang RS Sampai Rumah
Prosesi pemakaman pasien meninggal COVID-19. (Twitter/@TRCBPBDDIY)

"Pas mau dimasukkan ke peti keluarganya ini ngeyel."

SuaraJatim.id - Kejadian membawa pulang paksa jenazah pasien positif virus corona atau Covid-19 dari rumah sakit kembali terjadi. Kejadian kali ini dilakukan oleh satu keluarga asal Pegirian, Surabaya.

Pemulangan secara paksa tersebut lantaran sang keluarga ingin memakamkan jenazah yang lokasinya berdekatan dengan rumah dan makam bersebelahan dengan kerabatnya. Bahkan pemulangan jenazah secara paksa ini diambil beserta ranjang milik rumah sakit.

Lurah Pegirian Menik Hartawanta mengatakan awalnya warganya yang berusia 48 tahun tersebut mengalami sakit dan dilarikan menuju Rumah Sakit PHC. Karena adanya indikasi gejala Covid-19, pasien itu diminta untuk melakukan swab.

"Dari RS PHC itu di rapid, di tes swab kan hasilnya keluar lama terus di bawa pulang sempat enakan. Tapi waktu pulang itu kan dia dipantau pihak Puskesmas karena statusnya PDP," ujar Menik saat dihubungi SuaraJatim.id, Sabtu (6/6/2020).

Beberapa hari kemudian, hasil tes swab yang ditunggu akhirnya keluar dan ternyata warga tersebut dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Kabar tersebut disampaikan oleh pihak RS PHC ke Puskesmas untuk diteruskan ke keluarga pasien.

"Begitu hasil keluar pihak RS PHC menginformasikan ke dinas kesehatan kota, akhirnya menyampaikan ke puskesmas dan keluarga pasien untuk melakukan pengawasan intens, itu sudah dilakukan," katanya.

Selang beberapa hari, sakit yang diderita oleh pasien tersebut kambuh. Akhirnya keluarga pasien membawa ke Rumah Sakit Paru untuk diperiksa. Namun, pihak keluarga saat itu menutupi fakta bahwa pasien itu positif Covid-19.

"Awalnya memang proaktif, 30 Mei itu sudah diinfokan ke keluarga (positif Covid-19). Saya enggak tahu alasannya apa. Rumah sakit juga nggak tahu kalau pasien itu meninggal dengan status Covid-19," ucapnya.

Diketahuinya pasien ini meninggal berstatus positif Covid-19 pada Kamis (4/6/2020), setelah pihak RS Paru melaporkan ke Puskesmas setempat. Pihak rumah sakit akhirnya langsung menyiapkan pemulasaraann jenazah dengan protokol kesehatan.

Ketika jenazah sudah disterilkan dengan di semprot disinfektan dan dibungkus kantong mayat untuk kemudian dimasukkan ke dalam peti, muncullah keluarga dengan warga yang lain tak terima dan memaksa membawa pulang jenazah.

Pihak rumah sakit yang kewalahan dengan kondisi massa yang cukup banyak akhirnya merelakan jenazah tersebut di bawa pulang dengan paksa oleh keluarga.

"Pas mau dimasukkan ke peti keluarganya ini ngeyel di geret, massanya kan banyak, kira-kira mungkin 50-an itu keluarga sama warganya. Di gledek sama ranjangnya sampai ke rumah," ungkapnya.

Kabar tersebut pun ramai, dan akhirnya perangkat desa Pegirian beserta kepolisian setempat membantu memediasi keluarga dan warga yang ikut memulangkan untuk bisa mengerti kondisi yang terjadi.

"Karena warga ini gak percaya kalau positif Covid-19. Pihak rumah sakit kan gak bisa ngasih bukti karena yang punya hasil tesnya itu RS PHC," katanya.

Menik yang saat itu dibantu oleh perangkat desa dan Babinsa serta Bhabinkamtibmas akhirnya bisa membujuk pihak keluarga agar mau jenazah dimakamkan ke pemakaman khusus jenazah Covid-19 di TPU Keputih Surabaya.

"Kita jelaskan, di mediasi itu, Alhamdulillah berhasil. Sehingga keluarga itu berkenan jenazah di makamkan ke TPU Keputih. Awalnya mereka pingin dimakamkan di sekitar Pegirian karena mungkin ya mau bersebelahan dengan makam keluarga yang lain," jelasnya.

Pakai Peti

Rupanya setibanya di tempat pemakaman, keluarga sempat melakukan penolakan kembali. Mereka meminta jenazah dimakamkan tanpa menggunakan peti.

"Saya dapat informasi emang sempat ramai kembali, ya mau gimana lagi karena massa yang banyak tadi akhirnya jenazah dimakamkan atas permintaan keluarga. Tapi setidaknya sudah menggunakan protokol kesehatan," tuturnya.

Sementara itu, mengenai kondisi keluarga yang sudah terlanjur kontak dengan pasien, Menik mengatakan bahwa sebagian keluarga sudah melakukan rapid test. Sisanya masih belum bisa karena alasan sibuk dengan pekerjaan.

"Dari 5 anak pasien, baru dua orang yang bersedia melakukan rapid. Sementara yang lainnya masih belum. Tapi kami akan terus membujuk dan mengupayakan mereka untuk bisa rapid ya," kata dia.

"Tapi Alhamdulillah dua anaknya yang kemarin ikut rapid test massal di Ampel hasilnya dua-duanya negatif atau non reaktif," tambahnya.

Manik juga mengaku sudah melakukan koordinasi dengan Pemadam Kebakaran setempat untuk melakukan penyemprortan di sekitar kawasan tempat tinggal pasien yang positif tersebut guna mencegah penyebaran.

"Insyaallah besok Senin tanggal 8 Juni ya akan di semprot disinfektan di kawasan Pegirian itu, kami sudah koordinasi dengan PMK setempat," pungkasnya.

Kontributor : Arry Saputra

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS