Produknya yang tidak terlalu besar serta desain yang mendukung ini, menjadi solusi untuk daerah 3T yang memiliki jalur pendistribusian yang sulit.
Hammam mengakui, produk sel surya yang menggunakan bahan organik memang tidak seefisien solar panel pada umumnya. Namun, ia bersama timnya mengakali hal tersebut dengan sistem konektor berbahan baku daur ulang plastik yang menghubungkan satu D-ETALON dengan D-ETALON lainnya.
Terbukti produk ini enam kali lebih efisien daripada sel surya berbahan organik lainnya. Inovasi yang mampu memberi solusi untuk permasalahan listrik di daerah 3T serta mengembangkan produk yang ramah lingkungan ini.
Bahkan, produk ini telah mengantarkan tim tersebut menjadi pemenang pada kompetisi ASEAN Innovative and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2021, akhir Februari lalu. Mereka berhasil meraih medali emas dengan kategori Environmental Science.
Baca Juga:Sidoarjo-Surabaya-Gresik Segera Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Hammam menambahkan, inovasi ini juga diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun ini. "Kami juga menambahkan fitur tambahan yaitu Solar Tracking System," katanya lebih lanjut.
Sistem ini akan membuat solar panel mengikuti arah matahari sesuai pergerakannya dari terbit hingga terbenam agar output-nya lebih maksimal.
Nantinya, kata Hammam, akan ditambahkan juga sensor cahaya yang terintegrasi dengan Arduino, pengendali mikro berbasis perangkat lunak. Sehingga panel surya bisa bergerak mengikuti arah matahari.
Selain untuk bisa diikutkan di berbagai lomba lain, target Hammam dan timnya ialah agar inovasi ini bisa dibawa ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan meraih kemenangan. Hammam berharap produk D-ETALON ini bisa dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
"Di PKM nanti kita juga berencana buat menyampaikan ini (produk D-ETALON, red) ke masyarakat, mungkin seperti daerah 3T di Madura dan sekitarnya," kata Hammam.
Baca Juga:Pemkot Surabaya Diminta Gandeng Polisi Buru Penjebol Penjara Kalisosok
Kontributor : Dimas Angga Perkasa