Ar-Razy pada penafsiran berikutnya, ayat 5 dan 6, mengartikan kata yusran sebagai dunia dan dan harta merupakan bagian dari dunia. Hendaknya Nabi tidak perlu terlalu memikirkanknya, karena kesusahan Nabi di dunia akan berbuah di akhirat kelak.
Pemaknaan lain disampaikan Ibnu Katsir di tafsir Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim. Dalam Surat Al Insyirah ayat 5 dan 6, makna yang ditekankan lebih pada aspek kebahasaannya. Kata al-‘usr pada ayat tersebut disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal) yang ditanidai dengan adanya kata al pada kata tersebut dan menjadikan makna satu kesulitan
Sementara itu, kata yusran dibentuk dengan model nakirah yang memiliki makna banyak atau umum sehingga menjadikan maknanya kemudahan yang banyak atau kemudahan yang tidak terbatas.
Pada bagian ketiga, yakni bagian ayat 7 dan 8 para mufasir memiliki berbagai pendapat. Fakhruddin Ar-Razi mengungkapkan yang dimaksud pada kedua ayat tersebut adalah perihal ibadah, dengan pengertian jika kita telah melaksanakan ibadah semisal salat, maka dipersilahkan untuk melakukan hal lain, contohnya berdoa.
Baca Juga:Khasiat Surat Al Ikhlas, Jika Dibaca 10 Kali Akan Dapat Istana di Surga
Penafsiran tersebut sedikit berbeda dengan Ibnu Katsir yang memaknai ayat tersebut dengan pengertian jika seorang hamba telah selesai mengerjakan segala gemerlap duniawi maka lalu beribadahlah dengan niat ikhlas dan lapang.
Tafsir Prof Quraish menyebut kedua ayat tersebut justru memberi anjuran kepada umat muslim untuk menyeimbangkan antara usaha yang sungguh-sungguh dan berdoa kepada Sang Pencipta. Ayat 7 dimaknai Quraish Shihab sebagai anjuran kepada umat muslim untuk selalu memiliki kesibukan dan tidak menyia-nyiakan waktunya. Bila telah menyelesaikan suatu pekerjaan, maka harus melaksanakan pekerjaan lainnya yang belum selesai.
Sedangkan ayat 8 dimaknai sebagai doa kepada Allah sebagai pelengkap dan satu kesatuan dari usaha yang dilakukan pada ayat sebelumnya. Kedua ayat terakhir ini menjadi pertanda bahwa usaha harus didahulukan terlebih dahulu, setelah itu barulah mencurahkan harapan kepada Allah.
Usaha dan doa harus selalu menjadi pegangan oleh manusia, karena betapapun kuatnya potensi yang dimiliki manusia akan selalu memiliki batas. Hanya harapan kepada Tuhan-lah yang dapat menjadikan manusia bertahan menghadapai dilema kehidupan yang kadang begitu pahit dirasakan.
Kontributor : Titi Sabanada
Baca Juga:Surat Al Kafirun Ayat 1-6: Keutamaan dan Tafsirnya