facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Korban Dugaan Pelecehan Seksual Guru Ngaji di Mojokerto Diprediksi Capai Puluhan Anak

Muhammad Taufiq Selasa, 28 Juni 2022 | 10:58 WIB

Korban Dugaan Pelecehan Seksual Guru Ngaji di Mojokerto Diprediksi Capai Puluhan Anak
Ilustrasi pelecehan seksual (pixabay/Gerd Altmann)

Korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan guru ngaji berinisial Rd, di Kabupaten Mojokerto kemungkinan mencapai puluhan anak.

SuaraJatim.id - Korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan guru ngaji berinisial Rd, di Kabupaten Mojokerto kemungkinan mencapai puluhan anak. Lantaran aksi tak senonoh itu sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu.

Prediksi itu mencuat setelah tim penasihat hukum tiga korban melakukan investigasi ke lembaga pendidikan agama tempat Rd mengajar di Kecamatan Sooko. Berdasarkan keterangan para korban, di ruang sekretariat itulah, para bocah ini mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari oknum ustadz Rd.

"Prediksi kita, karena di situ santrinya ada puluhan, di atas 50 anak, prediksi kita maka pertama (pelecehan seksual) ini sudah berlangsung bertahun-tahun lalu, yang kedua korbannya adalah puluhan," kata kuasa hukum korban, Ansorul Huda, Selasa (28/6/2022).

Ansorul mengungkapkan, ada beberapa temuan yang mendasari prediksinya itu. Berdasarkan hasil penelusuran pihaknya, aksi pelecehan seksual yang dilakukan guru ngaji tersebut seperti siklus yang dianggap normal di lembaga tersebut.

Baca Juga: Blak-blakan, Begini Kesaksian Korban Pelecehan Seksual di Markas PBB

Ansorul mencontohkan, saat dulu dirinya masuk ke perguruan tinggi, dimana saat masa orientasi kampus, perploncoan seakan menjadi adat-istiadat yang dilakukan secara turun temurun. Kondisi itu hampir sama dengan yang dilakukan Rd kepada para muridnya, di lembaga tersebut.

"Contoh kejadian siapapun yang habis masuk ke ruangan itu, keluarnya disoraki oleh teman-temannya yang lain. Kemudian ada juga yan mereka, tidak suka diperlakukaan kayak gitu langsung nyari sepeda dari pada dipanggil ustad saat istirahat. Nah mereka yang dipanggil ustadz berarti menjadi korban eksekusi," jelas Ansorul.

Bahkan, kata Ansorul, salah satu dari tiga korban yang didampinginya mengaku, jika sudah menjadi obyek pelecehan seksual Rd sejak 3 tahun silam. Selama korban duduk di bangku kelas VII-IX Sekolah Menengah Pertama (SMP), korban selalu menjadi sasaran pelampiasan syahwat Rd dan aksi itu dilakukan di ruang sekretariat lembaga.

"Iya, satu diantara korban ini sudah menjadi obyek (pelecehan seksual) terduga pelaku ini sudah 3 tahun, sejak kelas 1 sampai 3 SMP," ujar Ansorul.

Sementara modus operandi yang digunakan Rd dalam menjalankan dugaan pelecehan seksual yakni dengan memanggil murid ke ruang sekretariat atau kantor. Di dalam ruangan itu, murid yang menjadi obyek pelecehan seksual akan diminta untuk menonton video perilaku seks menyimpang dari gaway Rd.

Baca Juga: Psikolog Diturunkan Buat Dampingi Korban Dugaan Pelecehan Seksual Guru Ngaji di Mojokerto

"Pengakuan korban, secara fisik mereka bisa melawan tapi sepertinya tidak punya daya, semacam didoakan atau gimana jadi tidak ada perlawanan sama sekali," ucap Ansorul.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait