Sedangkan Indonesia pernah meraih pertumbuhan ekonomi lebih dari 7 persen pada era reformasi yakni di kuartal II tahun 2021, tidak sesuai dengan klaim dari Mahfud. Menurut Vishnu, penyampaian rencana atau data yang tidak sesuai dengan kondisi aktual dapat menyesatkan pemilih.
Meskipun Gibran dinilai paling efektif dalam menyampaikan pesan, dibanding Mahfud dan Cak Imin, Vishnu menyayangkan "penggunaan taktik yang dianggap kurang etis dengan pertanyaan teknis dan penggunaan istilah asing yang sulit dipahami lawan, seperti Carbon Capture Storage atau SGIE, tanpa menjelaskan kepanjangan atau maksud dari pertanyaan tersebut.
Vishnu juga menyoroti kekurangan KPU sebagai penyelenggara debat. Penambahan podium kepada para peserta cawapres dianggap tidak memberikan perbaikan signifikan, sementara format debat masih terlihat seremonial, kaku, dan birokratis.
"Pemilihan tema dengan terlalu banyak subtopik juga dinilai tidak memberikan ruang yang cukup untuk penjelasan yang komprehensif dari kandidat" tuturnya.
Baca Juga:Serangan kepada Jokowi Pengaruhi Pemilih, Elektabilitas Prabowo-Gibran Melejit di Jatim
Vishnu mengusulkan batasan maksimal tiga subtopik untuk mendapatkan pemikiran lebih mendalam, misalnya subtopik ekonomi digital, ekonomi sektor riil dan ekonomi sektor investasi.
Salah satu poin yang paling ditekankan oleh Vishnu Juwono adalah mengenai topik ekonomi. Ia menilai bahwa isu ekonomi, sebagai salah satu program utama pemerintahan, seharusnya menjadi fokus calon presiden, bukan wakil presiden.
"Dalam konteks pemilihan negara maju seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris Raya, topik ekonomi selalu menjadi salah satu pusat perdebatan calon kepala pemerintahan," demikian Vishnu. [Antara]