- SD Negeri Nailan di Ponorogo tidak menerima siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027 sehingga tidak mengadakan MPLS.
- Sekolah hanya memiliki total 13 siswa tersisa akibat minimnya jumlah anak usia sekolah di Desa Nailan tersebut.
- Orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke madrasah dan pondok pesantren karena minat kuat pada pendidikan keagamaan.
SuaraJatim.id - SD Negeri Nailan, Kecamatan Slahung, Ponorogo tidak mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026).
Tahun ajaran baru 2026/2027 resmi dimulai, namun gerbang sekolah ini tak kunjung dilewati oleh satu pun siswa baru.
Tidak ada riuh rendah anak kelas 1 yang kebingungan mencari kelasnya, karena memang tak ada satu pun nyawa yang mendaftar.
Kondisi ini bukanlah kejutan baru, melainkan luka lama yang kian menganga. SDN Nailan kini bak sekolah hantu yang kehilangan generasi.
Baca Juga:Malam Mencekam di Batoro Katong: Saat Teror Golok Pecahkan Keramaian Ponorogo
Ruang kelas 1 kosong, begitu pula dengan kelas 2. Dari enam tingkatan kelas yang ada, total murid yang tersisa hanya 13 anak. Rinciannya kelas 6 sebanyak 7 siswa, kelas 5 ada 2 siswa, kelas 4 hanya 1 siswa, dan kelas 3 ada 3 siswa. Saat mencoba mencari jawaban dari pihak sekolah, para guru dan kepala sekolah memilih bungkam.
Misteri kosongnya peminat di SDN Nailan akhirnya terjawab melalui penjelasan Kepala Desa Nailan, Nurhadi. Menurutnya, sekolah ini secara geografis terkepung oleh berbagai lembaga pendidikan lain.
"Jadi gini, kita itu sebenarnya istilahnya terkepung. Terkepung dengan adanya pondok pesantren, lalu di sebelah juga ada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN)," ungkap Nurhadi, Senin (13/7/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Nurhadi menjelaskan bahwa pergeseran nilai di masyarakat menjadi faktor penentu. Saat ini, para orang tua di Desa Nailan lebih cenderung memilih sekolah yang menawarkan porsi pendidikan agama yang lebih kuat.
"Ngetrennya sekarang yang dicari itu pendidikan dasar yang paling bagus masalah keagamaannya. Jadi rata-rata larinya ke MIN," tambahnya.
Baca Juga:Terungkap Motif di Balik Tewasnya Siswa SMP Lumajang: Dendam Tiga Hari karena Teguran Guru
Pemerintah desa sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai strategi telah dijalankan untuk menyelamatkan napas SDN Nailan.
Mereka mencoba membuat sistem penggiringan dari jenjang playgroup ke TK desa agar nantinya bisa berlanjut ke SD tersebut. Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat anak-anak lulus dari TK.
"Setelah kita kumpulkan semua wali murid dan ditanya, jawabannya ya itu tadi, 'Pak, biar ke MIN saja dulu'," ucap Nurhadi menirukan ucapan warga.
Kondisi ini diperparah dengan fakta demografi yang pahit. Berdasarkan data Posyandu, jumlah anak usia masuk SD di Desa Nailan tahun ini memang sangat minim, hanya sekitar 6 hingga 7 anak.
Dengan jumlah yang sedikit itu, SDN Nailan harus bertarung dengan daya tarik sekolah agama yang lebih memikat hati para orang tua.