- Guruh Soekarnoputra wafat pada Sabtu, 26 September 2026, meninggalkan duka bagi masyarakat Kediri, Blitar, dan Tulungagung.
- Ia dikenang karena kesederhanaannya, seperti mau menginap di rumah warga biasa dan beristirahat di dalam sebuah gudang.
- Guruh secara tegas melarang segala bentuk pemotongan atau pungutan liar pada penyaluran beasiswa Program Indonesia Pintar bagi pelajar.
SuaraJatim.id - Kabar berpulangnya Guruh Soekarnoputra meninggalkan duka mendalam di seantero negeri. Namun, di ceruk wilayah Mataraman, dari Kediri, Blitar, hingga Tulungagung, kepergian sang putra bungsu Proklamator justru disambut dengan aliran kenangan hangat tentang sebuah kesederhanaan yang langka.
Bagi masyarakat akar rumput yang pernah bersinggungan dengannya, Guruh bukan sekadar pangeran politik bertrah besar atau ikon seni panggung.
Ia adalah wakil rakyat yang menanggalkan privilese dan benar-benar merubuhkan sekat dengan rakyat jelata.
Rekam jejak itu terpatri kuat dalam ingatan Dendi Rulianto, Koordinator Barisan Guruh (BAGUS) Kediri, yang setia mengawal Guruh blusukan menyapa konstituennya.
Baca Juga:Dicecar Kasus Dugaan Penipuan Rp214 Juta, Wawali Blitar: Jangan Tanya di Luar Urusan KONI
"Wonge gak ribet lah (orangnya tidak pernah menyusahkan)," ungkap Dendi mengenang sosok almarhum, Sabtu (26/9/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Status sebagai anak biologis dan ideologis Bung Karno tak serta-merta membuat Guruh menuntut karpet merah saat turun ke daerah.
Dendi mengingat jelas, dalam sebuah agenda reses di kawasan Asmorobangun, Guruh dengan santai memilih menginap di rumah warga biasa tanpa rasa canggung.
Keteladanan paling membekas terjadi saat sebuah lawatan di Surabaya. Ketika fasilitas mewah bisa dengan mudah ia peroleh, Guruh justru memilih merebahkan tubuhnya untuk beristirahat di dalam sebuah gudang. Kesahajaan yang spontan itu menunjukkan bahwa watak merakyatnya bukanlah hasil koreografi pencitraan politik.
Bukan hanya bersahaja dalam laku, Guruh juga meninggalkan jejak integritas yang kokoh tanpa kompromi. Saat mengawal penyaluran beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) bagi pelajar di Kediri, ia memasang dinding moral yang sangat keras bagi tim lapangannya.
Baca Juga:Polisi Makassar 'Geruduk' Balai Kota Blitar: Buru Keterangan Wawali Elim Soal Utang Pileg Rp214 Juta
Guruh menutup rapat segala celah pemotongan maupun pungutan liar yang kerap menghantui program bantuan sosial.
"Pesan beliau sangat tegas: jangan sekali-kali meminta uang PIP untuk kita. Itu hak rakyat, hak anak sekolah Indonesia," kenang Dendi mengutip doktrin moral yang selalu ditanamkan Guruh.
Sebelum mengampu wilayah basis nasionalis di Dapil Kediri, Blitar, dan Tulungagung, perjalanan politik Guruh bermula dari Dapil Surabaya dan Sidoarjo. Di mana pun kakinya berpijak, ia selalu terpilih dengan dukungan riil yang solid.
Menurut Dendi, Guruh tak sekadar menjual nama besar sang ayah. Pesona almarhum memiliki daya pikat organik yang menembus berbagai batas sosial mulai dari petani, kaum buruh, hingga akademisi dan budayawan.