- Sepuluh siswa SLB Negeri 1 Kota Blitar dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat mual dan lemas pada Kamis (17/9/2026).
- Seluruh korban mendapatkan penanganan medis cepat di rumah sakit dan telah diizinkan pulang setelah melewati masa kritis.
- Orang tua siswa mendesak evaluasi total terhadap standar mutu dan rantai pasok program makan bergizi gratis tersebut.
SuaraJatim.id - Kekhawatiran melanda para wali murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Kota Blitar. Sebanyak sepuluh anak berkebutuhan khusus terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mendadak tumbang dengan keluhan mual dan lemas usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (17/9/2026).
Kabar baiknya, seluruh siswa dilaporkan telah melewati masa kritis dan kini diperbolehkan pulang usai menjalani observasi intensif di rumah sakit.
Wakil Direktur RSUD Mardi Waluyo Blitar, Agus Saptono, menjelaskan para siswa tiba di instalasi gawat darurat (UGD) sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak medis bergegas memberikan tindakan penanganan cepat demi menstabilkan kondisi umum para pasien.
"Kondisinya sudah membaik dan selesai diobservasi, sehingga sekitar pukul 12.00 WIB sudah diizinkan pulang," jelas Agus dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Baca Juga:Buntut Demo Geruduk Balai Kota, Wawali Blitar Dipolisikan Terkait Eksploitasi Atlet Anak
Agus sekaligus meluruskan rumor liar yang sempat beredar dan memastikan tidak ada anak yang sampai kehilangan kesadaran.
"Tidak sampai pingsan, gejalanya mual dan sempat muntah satu kali. Di RSUD Mardi Waluyo kami menangani satu anak karena kapasitas tempat tidur di Puskesmas setempat sempat penuh. Seluruh biaya telah ter- cover oleh BPJS Kesehatan," tambahnya.
Waka Sarpras SLB Negeri 1 Kota Blitar, Yulia, membenarkan sepuluh anak didiknya sempat mengalami gejala serupa secara serentak.
Karena keterbatasan fasilitas, korban disebar ke Puskesmas Kepanjenkidul, RSUD Mardi Waluyo, dan RS Siti Khotijah demi mendapatkan pertolongan pertama secepat mungkin.
Di balik penanganan medis yang cepat, kelalaian fatal terkait kelayakan konsumsi makanan menu MBG mulai terkuak. Salah satu wali murid, Siti, membeberkan bahwa makanan yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut disinyalir telah rusak sebelum dibagikan.
Baca Juga:Geger Pria Tewas Misterius di Kamar Kos Bebas Blitar: Sosok Wanita di TKP Disorot
"Kemarin itu makanannya memang mulai basi. Saat saya cicipi sendiri, aromanya dan rasanya sudah mengarah ke basi," ungkap Siti.
Ironisnya, pihak SPPG disebut sempat mencoba menghubungi pihak sekolah untuk menyetop distribusi makanan setelah keluhan pertama mencuat.
Namun, instruksi penarikan tersebut datang terlambat karena sejumlah siswa berkebutuhan khusus itu sudah terlanjur melahap habis menu jatah mereka.
Meski seluruh korban kini telah pulih, insiden berulang ini menyisakan trauma mendalam dan kritik keras bagi sistem pengawasan mutu makanan.
Para orang tua mendesak pemerintah mengevaluasi total rantai pasok dan standar higienis program MBG agar anak-anak tidak lagi menjadi korban.
"Kalau kualitas pengawasannya seperti ini, bagi kami para orang tua, jauh lebih aman jika bantuannya dialihkan langsung dalam bentuk uang tunai ketimbang makanan jadi yang berisiko," pungkas Siti.