SuaraJatim.id - Bantuan Bupati Faida untuk korban banjir yang diberikannya secara langsung kepada santri Asrama Ma’had Baitul Ilmi di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (7/2) pekan lalu, memicu kehebohan, terutama di media-media sosial.
Jumat itu, Bupati Faida datang ke dua rukun tetangga di Mangli yang terkena anjir. Dia menyerahkan 40 paket sembako, 40 kasur lipat, selimut, dan nasi bungkus.
Perempuan berjilbab itu juga sempat mampir ke Baitul Ilmi yang diasuh Mastur, seorang dosen Institut Islam Negeri Jember. Ia didampingi sejumlah pejabat kecamatan dan kelurahan.
“Pagi itu saya waktu mengecek asrama, ada ramai-ramai. Ternyata ada bupati datang. Setelah Bu Faida ke tempat kami, terjadi dialog. Dalam dialog itu, beliau memberikan bantuan berupa kasur, selimut, dan sembako,” kata Mastur, warga setempat, seperti dikutip Suara.com dari Beritajatim.com, Senin (17/2/2020).
Mastur mengatakan, ada 18 orang santri yang tinggal di asrama yang asuhannya. Kemudian Bupati Faida mengatakan kepada anak buahnya, “Ya sudah, kasih satu-satu.”
Bantuan itu kemudian diserahkan secara simbolis berupa lima selimut, lima kasur, dan dua kardus sembako.
Mastur sebenarnya sudah senang, karena para santrinya mendapat bantuan.
“Tidurnya bisa tenang. Air saat banjir malam (Kamis malam) sudah surut sih. Tapi kamar asrama ada yang jebol terkena banjir. Teras bawah jebol. Ada tiga kamar jebol yang harus diperbaiki. Kalau ada kasur itu saya bisa tenang. Anak-anak bisa tenang,” katanya.
Pasalnya, karpet dan kasur yang biasa buat tidur basah kuyup. Namun kegembiraan Mastur tak bertahan lama.
Baca Juga: Habis Diliput Media, Bupati Jember Tarik Bantuan dari Korban Banjir
Kemudian setelah bubar, ada salah satu petugas datang kepada Mastur dan berkata, “Mohon maaf, Pak. Ini sementara saya tarik kembali.”
Mastur pun terkejut, “Lho, kenapa, Mas?”
“Begini, katanya akan diserahkan secara serentak nanti oleh kelurahan, sesuai dengan data yang diajukan,” kata petugas itu, ditirukan Mastur. Semua bantuan tadi ditarik kembali.
Mastur tak bisa menolak. “Ya sudah. Tapi pikiran saya, nanti kalau sudah ditarik, masak bisa kembali,” katanya. Bantuan itu tak juga dikirim selama tiga hari.
“Akhirnya ada santri yang mengambil bantuan di (pengurus) RW. Ada Pak Camat juga. Diserahkan dua kasur, dua selimut. Kata anak itu, Pak Camat mengatakan: ‘karena yang terdampak banjir bukan hanya di asrama, maka ini diratakan’. Jadi ada pemerataan. Maka kami hanya dapat jatah dua kasur dua selimut. Ya bagaimana lagi. Katanya aturannya begitu,” kata Mastur.
Bantuan itu tidak cukup. “Akhirnya saya peruntukkan pengurus. Ada tiga orang pengurus,” kata Mastur.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun
-
Dituding Jadi Imam Mahdi dan Bawa Kabur Rp1,3 Miliar, Figar Siap Lawan di Jalur Hukum
-
Sandera Bus Sendiri, Lepas Bus Lawan: Malam Horor Persebaya Diadili Bonek di GBT
-
Survei IndocPolls: Seskab Teddy Teratas, Nusron Wahid Dapat Penilaian Terendah
-
BRI Salurkan Kredit Rp1.645,5 Triliun dan Perkuat Pembiayaan UMKM