Abdul Aziz Mahrizal Ramadan
Selasa, 21 Juni 2022 | 10:49 WIB
Ilustrasi jenazah - pria Mojokerto menenggak racun menjelang pernikahannya. [Envato]

SuaraJatim.id - Entah apa yang ada dalam benak Andri Budi Santoso, warga Desa/Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini. Pria paruh baya berusia 46 tahun itu nekat mengakhiri hidupnya di atas makam istrinya.

Bapak tiga anak meninggal usai menenggak racun obat anti serangga sekira pukul 17.30 WIB Senin (20/6). Andri meninggal dalam kondisi duduk bersila, badannya tertelungkup ke gundukan tanah makam Sutiyaningsih, istrinya yang setahun lalu meninggal akibat Covid-19.

Disekitarnya terdapat sejumlah dua bungkus obat anti serangg dan sebuah kaleng obat semprot, serta sebuah gunting. Sebelum mengakhiri hidupnya, Andri sepertinya berdoa di makam sang istri. Masih jelas terlihat, bunga-bunga segar itu belum lama ditabur di gundukan tanah liat itu.

"Sebelum meninggal, dia (Andri) melakukan ziarah di makam istrinya," kata Kasi Humas Polres Kota (Polresta) Mojokerto Ipda M. Umam, Selasa (21/6/2022).

Baca Juga: Pelepasan Calon Jamaah Haji Mojokerto, Bupati Ikfina Imbau Soal Mutasi Omicron

Andri diduga mengalami tekanan yang cukup berat atau depresi, hingga memilih mengakhiri hidup dengan cara sadis. Andri berencana menikah lagi, prosesi pernikahan pun akan segera dilangsungkan dalam waktu dekat ini.

"Rencana mau menikah tanggal 3 Juli pekan depan itu. Tapi menurut informasi yang kita dapat, korban tidak memiliki uang, sehingga mungkin depresi," kata Umam.

Meski demikian, Umam belum bisa memastikan kebenaran, terkait motif Andri nekat melakukan bunuh diri. Pihak keluarga pun mengaku sudah mengikhlaskan kepergian Andri dan meminta agar jenazah Andri bisa dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan.

"Jenazah sudah kita serahkan ke pihak keluarga setelah dilakukan pemeriksaan kemarin. Untuk penyebab kematian, dugaannya korban meninggal karena bunuh diri dengan meminum racun itu," ucap Umam.

Sementara itu, juru kunci makam Desa Gedek, Bambang Utomo mengungkapkan, Andri memang sering berziarah ke pusara sang istri. Menurutnya, sepekan sekali atau kada dua kali, pengrajin sepatu itu datang untuk mengirimkan doa.

Baca Juga: Kerangka Manusia di Lahan Tebu Gegerkan Warga Mojokerto

"Sering datang ke sini, biasanya malam Kamis sama anaknya yang sulung, datang berdua," kata Bambang ditemui Suara.com.

Load More