- Ponpes Al Khoziny Buduran diyakini berdiri sejak awal 1920-an, bahkan lebih dari satu abad, melahirkan banyak ulama dan tokoh penting di Nusantara.
- Jaringan keilmuan pesantren ini terhubung erat dengan pesantren besar di Jawa, menjadikannya pusat pendidikan Islam berpengaruh di Sidoarjo dan sekitarnya.
- Tragedi robohnya asrama jadi pukulan berat, namun juga peringatan pentingnya standar keselamatan demi kelangsungan pesantren sepuh ini.
3. Santri Pertama, Titik Awal Sejarah
Menurut penuturan Kiai Salam Mujib, orang tua ketua rombongan tersebut tinggal di Buduran selama lima tahun pada awal 1920-an, tepatnya ketika pesantren diasuh oleh KH Abbas Buduran. Jika ditarik mundur, maka awal mula pesantren ini bisa berada di rentang 1915–1920.
Dengan catatan itu, berarti Pesantren Al Khoziny telah berdiri lebih dari satu abad. Sayangnya, kisah awal ini tidak terdokumentasikan secara rapi sehingga menyisakan ruang bagi berbagai versi sejarah.
Meski begitu, keyakinan Kiai Salam Mujib semakin kuat setelah mendapat konfirmasi dari Dr. Wasid Mansyur, penulis biografi KH Abdul Mujib Abbas. Dr. Wasid mengakui pernah mendengar langsung kisah serupa dari Kiai Salam Mujib dan sejumlah alumni sepuh pesantren.
4. Lebih dari Satu Abad Mengabdi
Jika kisah ini diyakini, maka usia Al Khoziny Buduran saat ini sudah menginjak satu abad lebih empat tahun. Selama itu pula pesantren ini berperan melahirkan kader-kader ulama, guru agama, dan tokoh masyarakat yang tersebar di berbagai daerah.
Sejarah panjang tersebut membuat Al Khoziny bukan hanya milik warga Sidoarjo, tetapi juga bagian dari khazanah pesantren Nusantara.
Pesantren Buduran meneguhkan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang konsisten mengajarkan ilmu agama sekaligus membentuk akhlak.
Di tengah perubahan zaman, peran pesantren ini tetap relevan, apalagi dengan ikatan sejarahnya yang dekat dengan pesantren-pesantren besar di Jawa.
Baca Juga: Evakuasi Korban Ponpes Ambruk di Sidoarjo Terus Berlanjut Hingga Malam
5. Tragedi di Tengah Warisan
Di balik sejarah yang panjang, musibah robohnya gedung asrama menjadi pukulan berat. Insiden ini mengingatkan bahwa selain menjaga tradisi keilmuan, perhatian terhadap infrastruktur juga krusial.
Bupati Sidoarjo sebelumnya menegaskan pentingnya pembangunan yang sesuai standar keselamatan agar tidak lagi menelan korban.
Bagi para santri dan alumni, musibah ini bukan sekadar kehilangan bangunan, melainkan ujian untuk tetap menjaga keberlangsungan pesantren yang telah berdiri selama lebih dari seabad.
Doa dan dukungan terus mengalir dari berbagai pihak, agar Al Khoziny Buduran dapat bangkit kembali, memperbaiki sarana prasarana, dan melanjutkan perannya sebagai salah satu benteng pendidikan Islam di Jawa Timur.
Sejarah Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam ini sudah hadir sejak awal abad ke-20. Usianya yang menembus lebih dari seratus tahun menandakan kontribusi besar terhadap dunia pesantren dan masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
BRI Dorong Budaya Hemat Energi dan Keberlanjutan di Momentum Earth Hour
-
Transformasi Desa Tugu Selatan Lewat Kampung Koboi, Bukti Kekuatan Potensi Lokal
-
Link Resmi Pengumuman SNBP 2026 Kampus Unair Surabaya
-
Kasus Pemotor Tewas di Pacitan Berakhir Damai, Ini Fakta dan Kronologinya
-
BRI Perluas Layanan BRImo, Pembelian Obat Bisa Langsung Antar ke Rumah