Wakos Reza Gautama
Sabtu, 25 April 2026 | 10:53 WIB
Mislicha, pedagang cilok asal Pasuruan naik haji di tahun 2026. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Mislicha Kasib, penjual cilok asal Bugul Kidul, Pasuruan, memulai aktivitas memasak sejak pukul 02.00 WIB setiap hari.
  • Berkat ketekunan menabung selama puluhan tahun, Mislicha akhirnya akan berangkat menunaikan ibadah haji pada musim 1447 H/2026.
  • Anak bungsunya, Mariatul Qibtiyah, turut mendaftar haji demi mendampingi sang ibu berkat hasil menabung dari berjualan cilok mandiri.

SuaraJatim.id - Di saat sebagian besar orang masih terbuai mimpi di bawah selimut hangat, dapur Mislicha Kasib (85) sudah mengepul.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 02.00 WIB pagi, namun jemari rentanya telah lihai mengaduk adonan tepung terigu dan bumbu.

Bagi Mislicha, setiap butir cilok yang ia bentuk bukan sekadar dagangan, melainkan kepingan rindu yang ia kumpulkan untuk mengetuk pintu langit.

Warga Bugul Kidul, Pasuruan ini adalah potret nyata dari sebuah keteguhan. Mengenakan pakaian serba putih yang bersih dan bersahaja, ia tampak siap menyambut hari.

Siapa sangka, di balik senyum teduhnya, tersimpan jejak perjuangan yang sanggup menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.

“Sebelum Subuh sudah di dapur. Jualan cilok di depan SMP 5 Jalan Trunojoyo setiap hari mulai jam delapan pagi,” kenangnya lirih pada Jumat (24/4/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Usia boleh saja senja, namun semangat Mislicha menolak luruh. Setiap pagi, ia mendorong sendiri gerobak ciloknya sejauh satu kilometer.

Jika rasa pegal mulai menyerang tubuh ringkihnya, ia hanya mengandalkan tegukan jamu tradisional sebagai penawar lelah. Tak ada keluh, hanya ada tekad yang membaja.

Penghasilan Mislicha jauh dari kata mewah. Di hari yang ramai, ia hanya mengantongi untung sekitar Rp50 ribu. Sejak suaminya berpulang 12 tahun silam, ia harus berjibaku sendirian membesarkan kedelapan anaknya. Namun, kemiskinan tak pernah mampu membeli imannya.

Baca Juga: Pasutri Lumajang Tertipu Rp80 Juta Demi Pangkas Antrean Haji 11 Tahun

Kuncinya adalah istiqomah. Setiap hari, tanpa absen, ia menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu ke dalam celengan sederhananya. Ditambah dengan uang arisan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, "bukit" harapan itu akhirnya terbentuk.

“Sudah 65 tahun saya jualan cilok. Kalau tidak menabung sedikit-sedikit, tidak akan bisa karena pengeluaran sangat banyak,” ujarnya bersahaja.

Buah dari ketekunannya selama enam dekade itu memuncak pada tahun 2017, saat ia akhirnya mampu mendaftarkan diri. Kini, setelah menanti selama sembilan tahun, Mislicha yang tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Surabaya bersiap terbang menuju Baitullah pada musim haji 1447 H/2026 mendatang.

Keteguhan Mislicha ternyata menular pada putri bungsunya, Mariatul Qibtiyah (35). Tergerak oleh perjuangan sang ibu, Mariatul bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh pabrik untuk beralih profesi menjadi penjual cilok. Tujuannya hanya satu agar bisa menabung secara mandiri dan mendampingi sang ibu di Tanah Suci.

“Baru tahun 2020 saya menyusul daftar untuk mendampingi Emak. Tabungannya dari sisa belanja tepung dan bawang yang dimasukkan ke celengan,” ungkap Mariatul dengan mata berkaca-kaca.

Load More