Wakos Reza Gautama
Selasa, 05 Mei 2026 | 18:10 WIB
Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, saat ditemui awak media di Kantor BPS Provinsi Jatim. [suara.com/dimas angga]
Baca 10 detik
  • BPS mencatat ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen dengan PDRB mencapai Rp888,44 triliun pada Triwulan I-2026.
  • Sektor pertanian menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Timur.
  • Tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 6,04 persen akibat ketidakselarasan kompetensi dengan kebutuhan pasar kerja lokal saat ini.

SuaraJatim.id - Provinsi Jawa Timur menunjukkan taji ekonominya di awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada Triwulan I-2026 menembus angka fantastis Rp888,44 triliun. Secara tahunan (year-on-year), ekonomi Jatim tercatat tumbuh impresif sebesar 5,96 persen.

Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang mengilap tersebut, terselip sebuah paradoks yang memprihatinkan di sektor ketenagakerjaan. Lulusan perguruan tinggi justru menjadi penyumbang pengangguran terbesar.

Pertumbuhan ekonomi Jatim pada awal tahun ini banyak dipicu oleh sektor hijau. Secara kuartalan (q-to-q), sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan melonjak drastis hingga 15,85 persen.

Hal ini menjadikan lapangan usaha tersebut sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dengan total 7,70 juta orang atau sekitar 31,76 persen dari total pekerja di Jawa Timur.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mencatat lonjakan paling signifikan sebesar 20,33 persen secara tahunan, disusul oleh sektor Jasa Lainnya yang tumbuh 13,44 persen.

Meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur secara umum turun tipis ke angka 3,55 persen pada Februari 2026, kualitas penyerapan tenaga kerja menjadi catatan merah.

Plt. Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa lulusan universitas mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni mencapai 6,04 persen.

"Ini menjadi perhatian serius karena lulusan pendidikan tinggi masih mendominasi angka pengangguran di Jawa Timur," ujar Herum saat rilis pers di Kantor BPS Jatim, Selasa (5/5/2026).

Fenomena ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan (mismatch) antara kompetensi lulusan universitas dengan kebutuhan pasar kerja di Jawa Timur yang saat ini masih didominasi oleh sektor industri pengolahan (kontribusi 31,45% terhadap PDRB) dan pertanian.

Baca Juga: Hardiknas, Gubernur Khofifah Luncurkan 40 Sekolah, Terima Rekor MURI & Hak Cipta Lagu "Jatim Cerdas"

Tantangan lain yang muncul adalah penurunan proporsi pekerja di sektor formal. Per Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal menyusut menjadi 35,56 persen (turun 0,53 persen poin).

Sebaliknya, jumlah pekerja paruh waktu justru mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan kerja stabil dengan jaminan sosial yang kuat semakin sulit diakses oleh masyarakat.

Kontributor : Dimas Angga Perkasa

Load More