Wakos Reza Gautama
Selasa, 16 Juni 2026 | 16:16 WIB
ilustrasi Gunung Lawu. Ribuan orang memadati jalur pendakian Cemoro Sewu, Gunung Lawu, untuk merayakan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. [Wikimedia Commons/Risanprasetyo]
Baca 10 detik
  • Ribuan orang memadati jalur pendakian Cemoro Sewu, Gunung Lawu, untuk merayakan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
  • Data Perhutani mencatat lonjakan drastis hingga mencapai lebih dari 1.500 pendaki yang melakukan aktivitas wisata dan ritual spiritual.
  • BPBD Magetan menerjunkan personel untuk bersiaga penuh di jalur pendakian guna memastikan keselamatan pendaki selama periode libur tersebut.

SuaraJatim.id - Udara dingin yang menusuk tulang di lereng Gunung Lawu tak menyurutkan langkah ribuan orang untuk menapaki jalur Cemoro Sewu.

Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, atau yang lebih dikenal sebagai Malam 1 Suro, kembali mengubah gunung di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini menjadi magnet spiritual dan wisata yang luar biasa.

Bagi masyarakat Jawa, Gunung Lawu bukan sekadar tumpukan tanah dan batuan. Ia adalah saksi bisu sejarah dan pusat energi spiritual.

Tak heran, pada momen pergantian tahun ini, jalur pendakian legendaris di Kecamatan Plaosan, Magetan, tersebut dibanjiri oleh mereka yang ingin sekadar berwisata alam maupun menjalani ritual sakral di ketinggian 3.265 MDPL.

Data dari Perhutani BKPH Lawu Selatan menunjukkan lonjakan yang drastis. Pada Jumat (12/6/2026) suasana masih relatif sepi dengan hanya 95 pendaki, keadaan berbalik 180 derajat saat memasuki akhir pekan.

Lautan manusia mulai terlihat sejak Sabtu (13/6/2026) dengan 395 pendaki, disusul 394 pendaki pada Minggu. Puncaknya terjadi pada Senin (15/6/2026), di mana 418 orang secara serentak mendaki jalur Cemoro Sewu.

Secara akumulatif, lebih dari 1.500 tapak kaki telah melintasi gerbang pendakian dalam kurun waktu lima hari saja.

"Momentum 1 Muharram memang selalu menjadi magnet. Campuran antara penghobi alam dan mereka yang menjalankan tradisi spiritual membuat aktivitas di Lawu meningkat signifikan," ujar Asisten Perhutani BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, Selasa (16/6/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Membeludaknya pendaki tentu membawa tantangan keselamatan yang besar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan tak mau kecolongan. Tim pasukan oranye pun diterjunkan untuk bersiaga penuh di Pos Cemoro Sewu hingga 18 Juni mendatang.

Baca Juga: Ratusan Pendaki Padati Gunung Lawu Demi Ritual 1 Suro

Kalaksa BPBD Magetan, Eka Radityo, menegaskan bahwa keselamatan adalah harga mati di tengah cuaca gunung yang tak menentu.

"Atas permintaan Perhutani, kami menyiagakan personel setiap hari untuk memantau situasi. Kami ingin memastikan tradisi dan wisata ini berlangsung aman tanpa insiden," jelas Eka.

Load More